VISAO MISAO OBJECTIVO HAKSESUK BOLA FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE
Bloku Unidade Popular Associação Popular Monarquia Timorense Kmanek Haburas Unidade Nasional Timor Oan Partido Esperança da Pátria Partido Socialista de Timor Partido Desenvolvimento Popular Congresso Nacional para a Reconstrução de Timor-Leste Partido Republicano União Democrática Timorense Partido Democrata Cristão Partidu Movimento Libertasaun Povu Maubere Partidu Libertasaun Popular Partido Democratico União Nacional Democrática de Resistência Timorense Partido Unidade Desenvolvimento Democrático Partido Timorense Democratico Frenti-Mudança Partido Social Democrata Centro Ação Social Democrata Timorense Partido do Desenvolvimento Nacional Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente
NICOLAU LOBATO
“O povo de Timor-Leste está reconstruindo com o seu próprio suor, com o seu próprio sangue uma pátria revolucionaria democrática, uma terra livre para gente livre”.

Espelho da Realidade
A Esperança Nunca Morre
TIMOR-LESTE



Interview with Fernando Lasama de Araujo: On the road to democracy, where the streets have no name
POVU NIA LIAN
Bazeia Polemika Iha Publiku, Deputadu sira Kansela Leilaun Prado
Estraga Karreta 12, MUTL Husu PNTL Investiga
Membru PNTL Asalta UNTL
Lejislatura Da-haat Mak Sei Ezekuta Kareta Prado

 
 
   

quarta-feira, 12 de novembro de 2008

"Santa Cruz": MARI LANJUTKAN PERJUANGAN MEREKA

"MENGENANG TRAGEDI SANTA CRUZ: 12 NOPEMBER 1991"

By: AJC Da Cunha*

Tragedi Santa Cruz adalah salah satu tragedi berdarah yang pernah terjadi di negeri tercinta Timor Leste (TL). Sebuah tragedi yang timbul dari rasa solidaritas dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa, atas tewasnya salah seorang pemuda bernama Sebatião Gomes satu bulan sebelumnya karena dibunuh oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada waktu itu. Saat ini, 17 tahun telah berlalu, TL pun telah tumbuh dan mulai berkembang sebagai sebuah bangsa yang beradab. Tentu, penulis dan mungkin ratusan ribu masyarakat TL lainnya merasakan hal yang sama, bahwa TL bisa "ukun rasik an" saat ini, adalah salah satunya karena pengorbanan oleh ratusan atau mungkin ribuan pemuda, mahasiswa, dan pelajar yang telah memberikan jiwa dan raga mereka untuk memberikan pesan kepada dunia internasional bahwa perjuangan rakyat bangsa ini tidak akan berhenti sampai memperoleh hak "ukun rasik an".

Kilas Balik Tragedi 12 Nopember 1991

Hari itu, tanggal 12 Nopember 1991, kurang lebih jam 11 pagi, setelah mengikuti misa satu bulan atas tewasnya Sebastião Gomes di gereja paroki Motael, Dili, ratusan orang, kebanyakan mahasiswa, melakukan prosesi dan aksi demonstrasi menuju pemakaman Santa Cruz, untuk memberikan penghormatan kepada almarhum Sebastião Gomes. Dalam perjalanan, yel-yel kemerdekaan pun terus diteriakkan. Berbagai spanduk tentang penentuan nasib sendiri pun digelar, dan poster-poster dari pemimpin perlawanan seperti Xanana Gusmao (sekarang PM TL) pun dibentangkan. Sebuah sikap sangat berani yang dilakukan di tengah-tengah TNI. keberanian yang patut dan pantas untuk mendapatkan apresiasi dan penghormatan tertinggi dari generasi-generasi muda saat ini.

Singkat cerita, ketika semua demonstran telah berada di dalam pemakaman Santa Cruz, tiba-tiba tentara TNI menembak secara membabi buta. Korban pun berjatuhan. 271 tewas, 382 terluka, dan 259 orang menghilang, termasuk diantaranya salah seorang pelajar ilmu politik dan aktivis HAM asal Selandia Baru (Sumber: Wikipedia.org/wiki/insiden Dili). Persitiwa tersebut dilihat dan diabadikan oleh dua wartawan yang berasal dari Amerika Serikat (Amy Goodman & Alan Nairm), serta seorang wartawan bernama Max Stahl yang berhasil merekamnya. Berita tersebut tersebar dengan cepat ke seluruh dunia, sehingga menimbulkan reaksi dan protes yang cukup keras dari berbagai kalangan, terutama dari Portugal dan Australia, di mana keberadaan komunitas masyarakat TL di sana cukup besar jumlahnya. Pengorbanan mereka telah membuka kembali mata dunia internasional yang seolah telah melupakan bangsa ini. Dunia pun terbangun, dunia mulai berbicara kembali. Dan semangat rakyat pun kembali terbakar untuk terus berjuang mengapai impian "ukun rasik an".

DUA OPSI

Delapan tahun setelah kejadian itu, pengorbanan itu pun akhirnya mencapai ujungnya. Negara Republik Indonesia, melalui presiden B.J. Habibie, memberikan dua opsi pilihan kepada rakyat: "Merdeka atau Otonomi seluas-luasnya dalam kesatuan NKRI". Mendengar itu, semua orang bahagia, meskipun mereka sadar, ke depan mereka akan menjalani dan mengalami teror yang lebih mengerikan lagi. Dan akhirnya masa itu tiba, mayoritas rakyat bangsa ini memilih untuk "ukun rasik an". Perjuangan dan pengorbanan para pemuda, mahasiswa, pelajar, tua maupun muda pada 12 Nopember 1991 pun terbayarkan. Semua rakyat larut dalam kebahagiaan. Impian itu telah menjadi nyata, kini semua bangsa Timor Leste berbangga, karena negeri yang mereka cintai telah menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dunia pun tersenyum, dunia pun bahagia, dan melalui misi UNMISSET (UNITED NATION MISSION IN EAST TIMOR) dunia pun bahu membahu memberikan apa yang mereka miliki untuk membantu membangun kembali bangsa ini dari kehancuran. Setelah dua tahun bangsa kecil inipun akhirnya diakui secara resmi oleh dunia. Ya, tanggal 20 Mei 2002 (Hari Restorasi) bangsa kecil ini pun diakui secara resmi oleh dunia internasional.

Penghargaan Terhadap Korban 12 Nopember (SANTA CRUZ)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Meskipun TL merupakan sebuah negara kecil, namun penulis percaya rakyatnya memiliki jiwa besar untuk mau dan akan selalu mengakui dan mengenang para pahlawan bangsa, baik yang telah meninggal dunia maupun yang saat ini masih hidup dan terus mendedikasikan hidup mereka untuk kemajuan bangsa ini. Negara pun menghargai mereka dengan memberikan santunan-santunan atas dedikasi dan pengorbanan yang telah mereka berikan pada waktu itu. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjustifikasi bahwa para korban 12 Nopember 1991 adalah satu-satunya pahlawan bangsa ini. Penulis sadar, perjuangan panjang bangsa TL mengapai ukun rasik an, tidak ditentukan hanya oleh satu peristiwa itu. Perjuangan bangsa ini telah dimulai sejak jaman kolonialisme Portugal hingga pada jaman pendudukan Indonesia. Tapi penulis mengakui bahwa, tragedi 12 Nopember 1991, merupakan salah satu tonggak penting dari perjuangan bangsa TL mengapai kemerdekaan. Dan menurut penulis, para korban dalam tragedi tersebut pantas menerima apresiasi yang tinggi dari seluruh rakyat TL.

Pertanyaan yang kemudian timbul dalam benak penulis adalah apresiasi macam apa yang patut dan pantas diberikan kepada para korban tragedi 12 Nopember? Memberikan santunan berupa bantuan dana atau misalnya memberikan pekerjaan tetap kepada para korban? Jika memberikan santunan berupa bantuan dana, siapakah yang lebih berhak mendapatkanya? Kriteria apa yang digunakan oleh pemerintah atau negara untuk memberikan bantuan, sehingga bantuan tersebut menjadi tidak salah sasaran? karena sadar atau tidak, di jaman kemerdekaan seperti ini, tentu banyak orang yang tiba-tiba merasa sebagai pejuang dan yang paling banyak berkorban. Penulis mengajak para pembaca semua untuk memberikan argumen dan opininya masing-masing mengenai hal ini. Namu demikian, penulis percaya, jika memang harus memberikan santunan berupa bantuan kepada para korban tragedi 12 Nopember 1991, tentu negara telah mempunyai kriteria tersendiri untuk menilai atau menjustikfikasi kepantasan seseorang.

Mari Lanjutkan Perjuangan

Perjuangan panjang rakyat dan para pejuang bangsa ini telah melahirkan sebuah negara baru di abad milenium. Sebuah bangsa kecil yang eksis dengan nama Republica Democratica De Timor Leste (RDTL). Dalam perjalanannya bangsa ini selalu mengalami berbagai problematika. Mulai dari sikap para elit politik yang lebih mementingkan kepentingan partai atau golongannya, sampai pada pertikian antara suku dan ras yang timbul akibat dari keserakahan para pemimpin bangsa yang nota bene merupakan para pendiri bangsa ini (krisis 2006-2007).

Saat ini, krisis itu telah berlalu. Rakyat TL kembali merajut mimpi mereka. Rakyat telah sadar dan paham, segala yang terjadi saat ini adalah karena moral para pemimpin yang terlalu memikirkan kepentingan mereka sendiri. Rakyat sadar, bahwa pengorbanan yang telah diberikan oleh para pahlawan yang telah gugur, tidak harus menjadi sia-sia, karena kepentingan segelintir elit politik yang menodai hasil perjuangan dan pengorbanan anak bangsa.

Sebagai salah satu anak muda dari sekian ribu anak muda yang lain, penulis yakin dan percaya bahwa masa-masa suram itu akan berlalu dengan cepat. Rakyat dan pemuda bangsa ini akan kembali bersatu, berjuang dengan segenap jiwa dan raga mereka seperti pada masa-masa perjuangan sebelumnya, dengan satu tujuan mencapai TL yang adil, makmur dan sejahtera. Perjuangan para kaum muda TL saat ini bukan lagi mengunakan kekuatan fisik, tapi mengunakan kekuatan intelektual. Perjuangan bukan lagi untuk mengusir penjajah, tapi untuk mengusir kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.

Banyak pemuda dan pemudi TL saat ini tersebar di berbagai penjuru dunia. Indonesia, Portugal, Australia, Cuba, dan banyak negara lainnya, merupakan tempat di mana ribuan pemuda berada hanya untuk satu tujuan yaitu membekali diri dengan ilmu pengetahuan, agar di masa depan mampu membawa TL menjadi sebuah bangsa yang dapat dibanggakan. Dengan kenyataan ini, penulis yakin kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan yang saat ini menghimpit rakyat bangsa ini akan segera berlalu.

Dengan mengenang 17 tahun tragedi Santa Cruz, penulis mengajak kita semua para pemuda, pelajar, dan seluruh mahasiswa Timor Leste di mana pun berada untuk terus mempererat tali persatuan, bulatkan tekad, melanjutkan perjuangan para pendahulu kita. Jika para pemuda, pelajar dan mahasiswa pada masa itu telah bersatu dan mampu membuka mata dunia bahwa bangsa Timor Leste masih ada dan akan terus eksis dalam perjuangan mereka mengapai kemerdekaan, maka saat ini kita pun bisa melakukan hal yang sama, yaitu membuka mata dunia bahwa kita pun bisa mengurus negara, bangsa, dan rakyat kita sendiri. Kita tidak akan pernah menjadi sebuah negara gagal, yang hanya selalu mengemis kepada kedermawanan bangsa lain. Kita adalah bangsa kecil yang memilik potensi untuk bisa menjadi lebih baik dan lebih hebat dari bangsa manapun.

Marilah kita belajar dengan sungguh-sungguh, membekali diri kita dengan ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang keilmuan yang telah kita pilih, agar kelak kita tidak menjadi intelektual "tanpa isi". Kita semua adalah masa depan bangsa. Jika kita mau dan sungguh-sungguh, maka tidak ada yang tidak mungkin.

Terima Kasih

Melalui tulisan ini, penulis ingin mengenang dan memberikan rasa hormat yang mendalam kepada para pemuda-pemudi, pelajar, mahasiswa, dan masyakarakat Timor Leste yang telah mengorbankan dan merelakan segala yang mereka miliki bagi kemerdekaan bangsa ini. penghargaan ini tidak hanya bagi korban tragedi 12 Nopember 1991, namun juga bagi korban tragedi-tragedi lain yang mungkin telah dilupakan atau tidak akan pernah tertulis dalam buku sejarah perjuangan bangsa ini.

Bagi korban yang telah meninggal dunia, semoga arwah mereka saat ini tenang di sisi Tuhan yang Maha Kuasa. Bagi mereka yang hilang dan jasad mereka tidak pernah ditemukan, semoga saat ini mereka tenang disuatu tempat yang indah di dunia ini. Dan bagi mereka yang saat ini masih hidup dan mengalami cacat seumur hidup, semoga mereka semua akan selalu ditabahkan dan dikuatkan menghadapi segala macam cobaan ini.

Bagi kita semua yang saat ini hidup, pemuda, pelajar, dan mahasiswa, mari terus berjuang. Perjalanan menuju TL yang adil, makmur dan sejahatera masih sangat panjang dan berliku. Marilah kita semua belajar dan bekerja keras, karena sadar atau tidak kita belum benar-benar terbebas dari penjajahan, karena saat ini kita sedang mengalami penjajahan jenis lain, yaitu penjajahan dari kaum kapitalis.

Pikirkan dan renungkanlah, karena hanya kita yang mampu membawa bangsa dan rakyat kita keluar dari kemiskinan, kebodahan, keterbelakangan, menjadi sebuah bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera. SELAMAT BERJUANG SAHABAT.

PENULIS SANGAT MENGHARAPKAN KRITIK DAN SARAN, SERTA MASUKAN YANG MEMBANGUN DARI SIAPA SAJA YANG MEMBACA OPINI INI.

*Penulis saat ini kuliah di
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Sem comentários:

Enviar um comentário

Nota: só um membro deste blogue pode publicar um comentário.