VISAO MISAO OBJECTIVO SPORTIMOR FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE
Congresso  Nacional de Recontrucão de Timor-Leste Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente Partido Democratico Frenti-Mudança FM Partido Socialista Timor Partido do Desenvolvimento Nacional Associação Social-Democrata Timorense União Nacional Democrática de Resistência Timorense União Democrática Timorense Partidu Republikanu Partido Libertasaun Povu 

Aileba Partido Democrática Republica de 

Timor Associação Popular Monarquia Timorense Partido Unidade Nacional Partido Milénio Democrático Klibur Oan Timor Asuwain Aliança Democrática Partido Timorense Democrático Partidu Democrática Liberal Partido do Desenvolvimento Popular Partido Democrata Cristão
"Bye bye" depois da cimeira da CPLP. ... dar lugar às novas gerações, para que estas se preparem para defender o país das ameaças à soberania do país.
H
O
M
E
Parlamento Nacional utiliza a língua portuguesa
Ramos Horta “muito encorajado”... em Bissau
DMCI Holdings sets sights on Timor-Leste
Wika Beton Pasok 120 Ton Beton ke Timor Leste
Safeguarding the porous border into Timor Leste
794 Prajurit TNI Diberangkatkan ke Perbatasan RI-TL
   Antonio Guterres
- TGuterres acredita que hoje seria impossível mobilização para libertar Timor
O antigo primeiro-ministro António Guterres defende que atualmente não seria possível mobilizar a comunidade internacional para ajudar no processo de independência de Timor-Leste, tendo em conta que na altura havia relações de poder claras.
"Money Finds Us" - Going organic in Timor-Leste The lush green mountains and rich, fertile soil of Maubisse in Timor Leste is perfect for growing vegetables. Small businesses development in Manufahi district, Timor Leste This video shows a number of successful agriculture-related small businesses..

terça-feira, 15 de Abril de 2014

Forum do Boao: “Novo Futuro da Ásia, Identificação de Motores de Crescimento”

Fórum de Boao em 2014 na Conferência Asiática Anual sobre o Tema “Novo Futuro da Ásia: Identificação de Motores de Crescimento”.

Timor-Leste's Prime Minister Xanana Gusmao addresses the opening ceremony of the Boao Forum for Asia (BFA) Annual Conference 2014 in Boao, south China's Hainan Province, April 10, 2014. (Foto: Xinhua/Chen Yehua in http://news.xinhuanet.com/english/photo/2014-04/10/c_133252270_17.htm)
Com o tema da conferência deste ano “Novo Futuro da Ásia, Identificação de Motores de Crescimento”, iremos explorar as dinâmicas da grand e transição geopolítica do nosso tempo. Hoje, mais do que nunca, é crucial que haja diálogo, incluindo em conferências como esta, para garantir que a transição para o nov o futuro da Ásia é pacífica e benéfica para todos.

O centro global a nível económico e estratégico est á a mudar para a Ásia. Esta nova Ásia terá dentro de si as capitais financeiras do mundo. Refiro-me não só a Hong Kong e a Singapura, como também a Shanghai e a Mumbai, a Jac arta e a Tóquio, a Seul e a Shenzhen. À medida que a Ásia alimenta a produção global, bem como o consumo, passaremos a ser o centro do foco internacional e o palco das políticas geoestratégicas.

A Crise Financeira Global, que veio expor a falência moral e o insucesso endémico do sistema financeiro internacional, acelerou esta mudança para a Ásia e continua a provocar o caos dos dois lados do Atlântico.

Ler o texto completo:
“Novo Futuro da Ásia, Identificação de Motores de Crescimento” (Portugues)
“Asia’s New Future, Identifying Growth Drivers” (Ingles)

segunda-feira, 14 de Abril de 2014

Explikasaun konaba Estradas Dili-Aileu-Ainaro

Husi Antonio Ramos
Gabinete Media Ministeriu Obras Publika
Rezultadu balun reabilitasaun estradas iha Timor Leste projetu Ministeriu Obras Publika nian (Foto: AR/MOP)
Akordu Estadu RDTL liu husi Governu halo ho Banku Mundial atu impresta osan ba rehabilita estradas husi Dili-Aileu-Aituto-Ainaro. Dili-Ainaro fahe ba lotes ka epatas 5. Lote 1 (Dili-Laulara), Lote 2 (Laulara-Solerema), Lote 3 (Solerema- Aileu), Lote 4 (Aileu –Atuto) e lote 5 (Aituto-Ainaro).

Lote 1 & 3 procesu tender hotu ona, husi CNA/NPC submete ona ba Tribunal de Contas (TC), hein vistu TC pois hahu ona servisu. Tuir Schedule iha fulan Maio hahu ona servisu.

Lots 4 & 5 iha fase avaliasaun dokumentus, companhias 13 mak hatama sira nia proposta. Tuir procesu normal CNA/NPC sei submete ba TC hodi fo visto previa hafoin implementa, tuir Schedule iha fulan Junho ka Julho de pois ba Lote 4 e 5.

Tanba saida mak Lote 2 ne’e mamuk? Tanba sei iha estudos ba viabilidades loke estradas husi Mota Comoro Ulun ba sai Merkado Solerema. Tanba ne’e mak lote 2 (Laulara-Solerema ) ne’e la tama ba Banku Mundial rehabilita tanba, posibilidade Governo tau osan hodi halo ka bok dala ida, osan mai husi restus ne’ebe sobra husi tender ba Lote 1 e Lote 2 , tanba lote 1 e 3 Companhias sira manan husi Xina, sira tama ho folin kiik no osan sei restu, restu ne’e bele kontinua ba obras husi Lote 2 (Laulara-Solerema).

Konaba estrada Aituto-Same, ne’e projetu investimentu husi Governu fo fiar ba Companhias TK (Tinolino & King Construction), servisu lao dadaun no progressu bele observa fisikamente iha terenu.

Ne deit mak informasaun balun ba publiku konaba rehabilitasaun estradas Dili-Aileu-Ainaro.

Problema ita nian mak birokrasia naruk, husi Parte MOP liu husi PMU submete dokumentus hotu ba CNA/NPC, depois selesiona no tender hotu, tenki submete ba TC (mos lori tempo minimu semana 2 ) ne’ebe lao nune!

Dala ruma publiku sira kestiona nune.... "tuir lolos MOP tenki tau matan", maibe problema mak ne’e, gasta dobru liu, se MOP ba halo, enquanto procesu tender internasional lao hela, hein implementa deit, tuir schedule nebe temi ona iha leten!

Dili, 14.04.14

sexta-feira, 28 de Março de 2014

Xanana Gusmao: Importance of Maritime Security for East Timor

By Xanana Gusmao
[ Jakarta Globe ] http://www.thejakartaglobe.com/
opinion/importance-maritime-security-east-timor

Xanana Gusmao
Foto Tiago Petinga/Lusa (expresso.sapo.pt)

If we want to address the issue of security and stability in the South China Sea and elsewhere, we are talking about common borders, common threats and common challenges.

And when we discuss all these problems, we all assume that everyone of us is governed by international law, without which relationships between states and governments cannot be carried out within a framework of rules, set and accepted by all. These rules seek to shape our political behavior in terms of cooperation.

Without establishing this set of principles, to which all of us bow, which is to say that we all vow to enforce it, talking about maritime security and stability would be talking about very vague and general policy issues, while this subject is linked directly with the individual interests of each country.

Read more:

The Jakarta Globe - Importance of Maritime Security for East Timor
http://www.thejakartaglobe.com/opinion/importance-maritime-security-east-timor/

quarta-feira, 26 de Março de 2014

Konflik Mauk Moruk vs Xanana Gusmao: DINAMIKA POLITIK YANG PENUH PARADOX KETIKA GEN DARI KAUM REVOLUSIONER MENGALAMI MUTASI MENJADI KAUM REAKSIONER

www.facebook.com/liobeino

Banyak yg bertanya kepadaku; "Kenapa saya tidak menuliskan artikel mengenai konflik Mauk Moruk (MM) vs Xanana Gusmao (XG)?"

Saya tidak menuliskan artikel untuk isu tersebut, karena saya tidak tahu persis masalahnya apa? Saya hidup di Indonesia untuk menjalani Pusaku (Puasa VVV yg sudah memasuki tahun ke-11). Saya tidak hidup di Timor Leste saat ini.

Kalau pun saya harus memberikan komentarku (sebagai seorang penulis netral), maka mungkin hanya ada satu kalimat yg menurutku cukup tepat untuk menggambarkan "nuansa konflik" antar kedua tokoh tersebut. Dan kalimat tersebut adalah;

DINAMIKA POLITIK YANG PENUH PARADOX KETIKA GEN DARI KAUM REVOLUSIONER MENGALAMI MUTASI MENJADI KAUM REAKSIONER

Kalimat ini muncul untuk menggambarkan konflik yg saat ini sedang menjadi isu nasional di Timor Leste, bukan karena saya tahu persis akar masalah yg menyebabkan konflik itu bergulir menggelinding. Melainkan karena isu seperti ini sudah merupkan "substansi klasik", yg sering kali terjadi di peradaban lain, atau dialami bangsa lain, di masa lalu. Sejarah telah berulang kali mencatatnya.

Jadi Timor Leste bukanlah bangsa yg pertama kali mengalami hal ini. Ini adalah bagian dari dinamika sebuah bangsa. Hanya saja saya melihat, dinamika ini penuh dengan hal-hal yg sifatnya sangat PARADOXAL. Dan efeknya kurang menguntungkan untuk kepentingan pembangunan bangsa. Salah satu prasyarat mutlak bagi sebuah bangsa untuk bisa membangun adalah STABILITAS NASIONAL.

Kenapa konflik MM vs XG saya kategorikan sebagai sesuatu yg PARADOX? Karena selain kedua tokoh ini sama-sama sebagai bagian integral dari KAUM REVOLUSIONER, juga substansi yg menjadi akar konflik (causa prima) masih berada di wilayah (ranah) ABU-ABU.

Ditambah lagi dengan alat ukur yg digunakan untuk menilai siapa yg benar dan siapa yg salah dalam isu ini, bersifat PARSIAL, bukan IMPARSIAL. Setiap orang (kelompok) menggunakan sudut pandangnya sendiri untuk mengukur.

Supaya konflik ini tidak bermuatan PARADOX, maka "substansi yg menjadi akar konflik" dibawa keluar dari wilayah ABU-ABU menuju wilayah HITAM-PUTIH. Dan untuk mengukur siapa yg benar dan siapa yg salah, alat ukur yg digunakan harus dilakukan KALIBRASI (standarisasi) terlebih dahulu. Dan ini adalah tugas para ahli. Semoga Pembaca memahami maksud saya.

Saya tidak melihat kasus ini bergulir karena ada fihak yg mau JUJUR, TULUS, memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Lebih cenderung kepada tuntutan EGO masing-masing (entah EGO pribadi atau EGO kelompok) dengan upaya-upaya untuk mengambil posisi DIAMETRAL, tapi dengan cara membungkusnya dengan slogan-slogan dalam bentuk jargon-jargon klasik yg menggambarkan seakan-akan bermuatan; "untuk dan demi kepentingan bangsa dan negara".

Sejarah selalu mencatat bahwa perjuangan yg berorientasi kepada pencapaian posisi DIAMETRALIS sebagai target akhir, berhasil atau tidak, tergantung kepada KEKUATAN LEGITIMASI dan KEKUATAN LEGALITAS. Dua jenis kekuatan ini tergantung kepada DUKUNGAN PUBLIK (yg luas). Dari mana datangnya DUKUNGAN PUBLIK (yg luas)? Ada sejumlah variable pengaruh. Empat di antaranya adalah; (1). POPULARITAS. (2). IKATAN EMOSIONAL (untuk membangun Solidaritas). (3) FASILITAS (Sumber Daya). (4). IDEALISME atau IDEOLOGI (yg menjadi barang dagangan untuk dijual kepada publik).

Dari 4 variabel di atas, saya melihat, ada satu variabel yg terlalu sulit untuk didapatkan oleh siapapun di Timor Leste guna mencapai posisi DIAMETRALIS, yakni; IKATAN EMOSIONAL. Mungkin TOKOH itu cukup POPULER. Dikenal secara luas di seantero Timor Leste. Tapi jika "track record" nya kurang membumi, sangat sulit untuk mendapatkan DUKUNGAN PUBLIK (yg luas). Karena atas alasan-alasan tertentu, TOKOH itu kurang memiliki IKATAN EMOSIONAL yg kuat dengan semua lapisan masyarakat dan semua komponen di Timor Leste.

Kalau kita menggunakan (referensi) TEORI PEMILU, sama halnya dengan saya hendak mengatakan; "Tidak selamanya TINGKAT POPULARITAS seseorang (selalu) berbanding lurus dengan TINGKAT ELEKTABILITAS".

Salah satu penyebabnya adalah karena cara dan isi pikir (bahkan telah tertanam dan berurat akar secara emosional di hati) setiap orang Timor Leste, bahwa orang Timor Leste itu cenderung untuk berpikir, bukan lintas nasional, tapi lintas regional. Akibatnya "isu-isu primordial" yg berpola(risasi) "dikotomis", sering menjadi salah satu kendala bagi pembangunan bangsa dan negara dalam semua aspek.

Akibatnya, upaya apapun yg dilakukan, di antaranya; melemparkan isu-isu tertentu untuk membentuk opini publik, termasuk di dalamnya memobilisasi kekuatan fisik yang rill untuk "show" (sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri). Tapi sayang, skalasinya bersifat "tersegmentasi pada kantong-kantong tertentu". Aksi-aksinya lebih bersifat sporadis, ketimbang skematis, karena tidak terorganisir dengan baik. Hasilnya sudah bisa diguga, kurang maximal, bahkan bisa GATOT (Gagal Total).

Pemikiran-pemikiran yg terkooptasi oleh isu-isu primordialisme ini telah menjadi salah satu fenomena sosial maupun politik, kalaupun belum bisa dikategorikan sebagai satu bentuk "pathologi sosial atau pathologi politik di Timor Leste". Tapi pada level praxis, sulit menghilangkan "pathologi" yang satu ini, karena telah lama (berabad-abad) berurat akar, akibat praktik-praktik "politik devide et impera" (politik memecah-belah dan mengadu domba) yg dijalankan oleh kaum penjajah selama ratusan tahun di masa lalu. Sehingga residunya masih tetap bertahan sampai saat ini. Dan butuh sekian generasi untuk mengikis pathologi yang satu ini dari kehidupan berbangsa dan bernegara orang Timor Leste.

Sekadar contoh kecil, silahkan Anda simak "konfigurasi" para Kader PD (Partai Demokrat) yg diproyeksikan untuk bertarung dalam Pemilihan Pengurus Baru PD yg rencananya dilaksanakan pada tahun 2015 atau 2016 (JOAO MARTINS-JOAO BOAVIDA, MARIANO ASSANAMI-SAMUEL, GASTAO SOUZA-ANTONIO DA CONCEICAO dan CONSTANCIO PINTO-FRANCISCO BORLAKU).

Pertanyaannya adalah; "Kenapa pola ini yg dipilih?" Pasti "para Politikus PD" memiliki alasan khusus. Konfigurasi Calon Presiden dan Sekjen PD sebagaimana tampak di sini, tampaknya berangkat dari pertimbanhgan (pola berpikir) yg terkooptasi oleh isu-isu primordial yg berpola "dikotomist". Saya tidak mengatakan bahwa (cara dan metode) itu salah atau benar. Saya hanya sebatas mengungkapkan data dan fakta.

Kembali kepada isu utama yg melibatkan MM vs XG, saya hanya mau bilang; "Jika seseorang atau sekelompok orang bertindak dan bereaksi, pasti ada hal yg menjadi pemicu, pendorong, dan penyebab, sekaligus ada hasrat-hasrat tertentu yg menjadi target yg hendak dicapai". Dan ini masih sangat ABU-ABU.

Dari uraian ini muncul pertanyaan retoris (sebagai bahan reflexi) yg cukup menggoda untuk dimunculkan; "APA YANG SEBENARNYA KITA CARI DAN HENDAK KITA MILIKI DALAM HIDUP INI?" Jawabannya kita kembalikan kepada hal-hal yg menjadi dasar ke-BUTUH-an dari KODRAT kita sebagai MANUSIA BIASA yg memiliki hasrat-hasrat tertentu. Kita khan BUKAN TUHAN? KODRAT kita hanyalah MANUSIA BIASA.

Kalau KODRAT kita bukan TUHAN, maka pertanyaan (logika) yg paling sederhana adalah; "BENARKAH KITA SECARA TULUS, JUJUR, TANPA PAMRIH MEMPERJUANGKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN?" Jika benar, kenapa kita tidak jadi ORANG SUCI saja (SANTO atau SANTA)?

Hanya saja saya jarang sekali menemukan referensi yg pernah mencatat bahwa di masa lalu ada POLITISI yg bertransformasi menjadi ORANG SUCI. Kalau referensi yg mengatakan bahwa ada MANTAN KULI yg kemudian; atas BERKAT ALLAH bertransformasi menjadi ORANG SUCI, pernah terjadi, yakni mendiang Bapa Suci PAUS Yohanes Paulus II, orang Polandia yang pernah menginjakkan kakinya di Indonesia selama 5 hari dan mengunjungi Timor-Timur pada Kamis, 12 Oktober 1989.

Saya percaya bahwa; "Setiap perjuangan, apapun bentuknya, apapun levelnya, kita akan mendapatkan hasilnya sesuai dengan harapan dan cita-cita kita, jika perjuangan itu di-BERKAT-i. Dan ALLAH hanya bersedia mem-BERKAT-i, jika apa yg kita perjuangkan, memang di-TAKDIR-kan untuk kita oleh SANG KHALIK. Jika yg kita perjuangkan bukan sesuatu yg di-TAKDIR-kan untuk kita, maka ALLAH tidak akan mem-BERKAT-i perjuangan kita. Dan apapun upaya kita, apapun perjuangan kita, tanpa BERKAT ALLAH, pasti yg akan kita dapatkan adalah sebuah "NIHILISME".

Namun walau demikian, sebagai MANUSIA BIASA, kita wajib ber-TIRAKAT. Setidak-tidaknya kita pernah mencobanya, terlepas dari berhasil atau tidak. Entah kita mencoba karena percaya pada HUKUM TAKDIR, atau kita mencoba karena percaya pada HUKUM MOMENTUM, untuk mengadu keberuntungan.

Hukum Momentum yg saya maksudkan di sini bukan HUKUM MOMENTUM dalam ILMU FISIKA yakni; Massa X Kecepatan (yg sering saya ajarkan kepada mahasiswa ketika memberikan Kuliah Ilmu FISIKA, saat masih mengajar di UNDIL dan UNPAZ), melainkan "Hukum Momentum" yg berkaitan erat dengan rencana "pngunduran diri Perdana Menteri Xanana Gusmao", yg oleh sebagian orang dianggap sebagai "momentum" yg tepat untuk beraksi, walau mungkin sifatnya lebih kepada "gambling" (mengadu keberuntungan), ketimbang memiliki sebuah konsepsi yg matang.

Orang-orang yg suka mencoba mungkin menganut prinsip; "BIG THINK WITHOUT SMALL ACT IS NOTHING".

BUT IT DOES NOT MEAN THAT BIG THINK WITH SMALL ACT IS EVERYTHING. BIG THINK WITH SMALL ACT IS IMPORTANT. BUT SOMETIMES IF SMALL ACT THAT BASED ON BIG THINK, USED BY WRONG PERSON ON WRONG TIME IS USELESS. THIS MEANS THAT BIG THINK, WITH SMALL ACT, NEED RIGHT PERSON AND RIGHT TIME".

Jika muncul pertanyaan; "Siapa yang akan keluar sebagai pemenang dari konflik ini?" Saya tidak ragu untuk mengatakan; Konflik ini akan berakhir menjadi ABU & ARANG. Karena kedua-duanya memulainya dengan API".

Di mana pun, kapan pun dan atas alasan apa pun, sesuatu yg dimulai dengan API, pasti akan selalu berakhir menjadi ABU & ARANG. Nah, supaya tidak berakhir menjadi ABU & ARANG, dibutuhkan AIR untuk memadamkan API yg baru mulai menyala, tapi belum sempat membakar sesuatu.

Pertanyaannya adalah; "Siapa fihak yang dianggap memiliki OTORITAS mumpuni untuk bertindak sebagai AIR?" Saya yakin, anak kecil TK di Timor Leste pun tahu jawaban atas pertanyaan ini.

"Mereka yang cari nama hanya untuk kepentingannya sendiri akan kehilangan nama karena dunia akan melupakan mereka. Mereka yang tak mau belajar untuk mawas diri, akan membuat keputusan yg menyebabkan langkah mereka membawa mereka menuju liang kematian. Mereka yang bekerja dan berjuang demi takhta dan kekuasaan, akan menuai kegagalan".
(Hilel; Rabi & Pengajar Yahudi/30-9 Sebelum Masehi)

Semoga TUHAN YESUS Yang Mahasuci memberkati kita semua. Amin

sábado, 22 de Março de 2014

Timor no coração de João Paulo II


Prólogo

Neste ano da graça de 2014, a Igreja Católica romana quer colocar no trono dos Santos dois grande homens do século XX: João XXIII e João Paulo II. Por isso, nesta prévia abordagem, quero partilhar com caros leitores alguns laços de afectos que unem o povo de Timor ao coração da Igreja através do pontificado de João Paulo II.

O cerne da questão: Timor no coração de João Paulo II

Introduzo, agora, o quadro epistemológico que deve evidenciar algumas características que unem o povo de Timor à Igreja universal. De modo explícito, a sua visita a Timor e a homilia que foi proferida aos cristãos de Timor em Tasi-tolu, no dia 12 de Outubro de 1989, e que constituiu não só um marco importantíssimo para a Igreja de Timor como também uma viragem para a luta pela libertação do povo. Veremos também algumas intervenções em favor de Timor Leste perante o Mundo internacional, sem esquecer a sua mensagem para o Dia da Restauração da Independência de Timor Leste. Por último, atentaremos nas palavras proferidas aos Administradores Apostólicos de Timor nas suas visitas Ad Limina ao Vaticano.

Ler o artigo completo
>> Timor no coração de João Paulo II


who's online