VISAO MISAO OBJECTIVO SPORTIMOR FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE
Congresso  Nacional de Recontrucão de Timor-Leste Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente Partido Democratico Frenti-Mudança FM Partido Socialista Timor Partido do Desenvolvimento Nacional Associação Social-Democrata Timorense União Nacional Democrática de Resistência Timorense União Democrática Timorense Partidu Republikanu Partido Libertasaun Povu 

Aileba Partido Democrática Republica de 

Timor Associação Popular Monarquia Timorense Partido Unidade Nacional Partido Milénio Democrático Klibur Oan Timor Asuwain Aliança Democrática Partido Timorense Democrático Partidu Democrática Liberal Partido do Desenvolvimento Popular Partido Democrata Cristão
"Bye bye" depois da cimeira da CPLP. ... dar lugar às novas gerações, para que estas se preparem para defender o país das ameaças à soberania do país.
H
O
M
E
Militares e polícias de TL vão trabalhar juntos
UMS, Timor Leste ink MoU on O&G industrial training
Economia não-petrolífera de Timor-Leste continua a crescer..
Timor-Leste To Overcome Obstacles To Be ASEAN..
CPLP deve evitar "visão estática" sobre países-membros
ILP de Timor-Leste inaugurado durante cimeira
   Politika Rai Liur
- Primeiro-Ministro visita Malásia, Austrália e China
O Primeiro-Ministro Xanana Gusmão vai realizar uma visita oficial à Malásia, de 30 de Março a 2 de Abril. Entre os dias 3 e 5 de Abril..
"Money Finds Us" - Going organic in Timor-Leste The lush green mountains and rich, fertile soil of Maubisse in Timor Leste is perfect for growing vegetables. Small businesses development in Manufahi district, Timor Leste This video shows a number of successful agriculture-related small businesses..

sexta-feira, 28 de Março de 2014

Xanana Gusmao: Importance of Maritime Security for East Timor

By Xanana Gusmao
[ Jakarta Globe ] http://www.thejakartaglobe.com/
opinion/importance-maritime-security-east-timor

Xanana Gusmao
Foto Tiago Petinga/Lusa (expresso.sapo.pt)

If we want to address the issue of security and stability in the South China Sea and elsewhere, we are talking about common borders, common threats and common challenges.

And when we discuss all these problems, we all assume that everyone of us is governed by international law, without which relationships between states and governments cannot be carried out within a framework of rules, set and accepted by all. These rules seek to shape our political behavior in terms of cooperation.

Without establishing this set of principles, to which all of us bow, which is to say that we all vow to enforce it, talking about maritime security and stability would be talking about very vague and general policy issues, while this subject is linked directly with the individual interests of each country.

Read more:

The Jakarta Globe - Importance of Maritime Security for East Timor
http://www.thejakartaglobe.com/opinion/importance-maritime-security-east-timor/

quarta-feira, 26 de Março de 2014

Konflik Mauk Moruk vs Xanana Gusmao: DINAMIKA POLITIK YANG PENUH PARADOX KETIKA GEN DARI KAUM REVOLUSIONER MENGALAMI MUTASI MENJADI KAUM REAKSIONER

www.facebook.com/liobeino

Banyak yg bertanya kepadaku; "Kenapa saya tidak menuliskan artikel mengenai konflik Mauk Moruk (MM) vs Xanana Gusmao (XG)?"

Saya tidak menuliskan artikel untuk isu tersebut, karena saya tidak tahu persis masalahnya apa? Saya hidup di Indonesia untuk menjalani Pusaku (Puasa VVV yg sudah memasuki tahun ke-11). Saya tidak hidup di Timor Leste saat ini.

Kalau pun saya harus memberikan komentarku (sebagai seorang penulis netral), maka mungkin hanya ada satu kalimat yg menurutku cukup tepat untuk menggambarkan "nuansa konflik" antar kedua tokoh tersebut. Dan kalimat tersebut adalah;

DINAMIKA POLITIK YANG PENUH PARADOX KETIKA GEN DARI KAUM REVOLUSIONER MENGALAMI MUTASI MENJADI KAUM REAKSIONER

Kalimat ini muncul untuk menggambarkan konflik yg saat ini sedang menjadi isu nasional di Timor Leste, bukan karena saya tahu persis akar masalah yg menyebabkan konflik itu bergulir menggelinding. Melainkan karena isu seperti ini sudah merupkan "substansi klasik", yg sering kali terjadi di peradaban lain, atau dialami bangsa lain, di masa lalu. Sejarah telah berulang kali mencatatnya.

Jadi Timor Leste bukanlah bangsa yg pertama kali mengalami hal ini. Ini adalah bagian dari dinamika sebuah bangsa. Hanya saja saya melihat, dinamika ini penuh dengan hal-hal yg sifatnya sangat PARADOXAL. Dan efeknya kurang menguntungkan untuk kepentingan pembangunan bangsa. Salah satu prasyarat mutlak bagi sebuah bangsa untuk bisa membangun adalah STABILITAS NASIONAL.

Kenapa konflik MM vs XG saya kategorikan sebagai sesuatu yg PARADOX? Karena selain kedua tokoh ini sama-sama sebagai bagian integral dari KAUM REVOLUSIONER, juga substansi yg menjadi akar konflik (causa prima) masih berada di wilayah (ranah) ABU-ABU.

Ditambah lagi dengan alat ukur yg digunakan untuk menilai siapa yg benar dan siapa yg salah dalam isu ini, bersifat PARSIAL, bukan IMPARSIAL. Setiap orang (kelompok) menggunakan sudut pandangnya sendiri untuk mengukur.

Supaya konflik ini tidak bermuatan PARADOX, maka "substansi yg menjadi akar konflik" dibawa keluar dari wilayah ABU-ABU menuju wilayah HITAM-PUTIH. Dan untuk mengukur siapa yg benar dan siapa yg salah, alat ukur yg digunakan harus dilakukan KALIBRASI (standarisasi) terlebih dahulu. Dan ini adalah tugas para ahli. Semoga Pembaca memahami maksud saya.

Saya tidak melihat kasus ini bergulir karena ada fihak yg mau JUJUR, TULUS, memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Lebih cenderung kepada tuntutan EGO masing-masing (entah EGO pribadi atau EGO kelompok) dengan upaya-upaya untuk mengambil posisi DIAMETRAL, tapi dengan cara membungkusnya dengan slogan-slogan dalam bentuk jargon-jargon klasik yg menggambarkan seakan-akan bermuatan; "untuk dan demi kepentingan bangsa dan negara".

Sejarah selalu mencatat bahwa perjuangan yg berorientasi kepada pencapaian posisi DIAMETRALIS sebagai target akhir, berhasil atau tidak, tergantung kepada KEKUATAN LEGITIMASI dan KEKUATAN LEGALITAS. Dua jenis kekuatan ini tergantung kepada DUKUNGAN PUBLIK (yg luas). Dari mana datangnya DUKUNGAN PUBLIK (yg luas)? Ada sejumlah variable pengaruh. Empat di antaranya adalah; (1). POPULARITAS. (2). IKATAN EMOSIONAL (untuk membangun Solidaritas). (3) FASILITAS (Sumber Daya). (4). IDEALISME atau IDEOLOGI (yg menjadi barang dagangan untuk dijual kepada publik).

Dari 4 variabel di atas, saya melihat, ada satu variabel yg terlalu sulit untuk didapatkan oleh siapapun di Timor Leste guna mencapai posisi DIAMETRALIS, yakni; IKATAN EMOSIONAL. Mungkin TOKOH itu cukup POPULER. Dikenal secara luas di seantero Timor Leste. Tapi jika "track record" nya kurang membumi, sangat sulit untuk mendapatkan DUKUNGAN PUBLIK (yg luas). Karena atas alasan-alasan tertentu, TOKOH itu kurang memiliki IKATAN EMOSIONAL yg kuat dengan semua lapisan masyarakat dan semua komponen di Timor Leste.

Kalau kita menggunakan (referensi) TEORI PEMILU, sama halnya dengan saya hendak mengatakan; "Tidak selamanya TINGKAT POPULARITAS seseorang (selalu) berbanding lurus dengan TINGKAT ELEKTABILITAS".

Salah satu penyebabnya adalah karena cara dan isi pikir (bahkan telah tertanam dan berurat akar secara emosional di hati) setiap orang Timor Leste, bahwa orang Timor Leste itu cenderung untuk berpikir, bukan lintas nasional, tapi lintas regional. Akibatnya "isu-isu primordial" yg berpola(risasi) "dikotomis", sering menjadi salah satu kendala bagi pembangunan bangsa dan negara dalam semua aspek.

Akibatnya, upaya apapun yg dilakukan, di antaranya; melemparkan isu-isu tertentu untuk membentuk opini publik, termasuk di dalamnya memobilisasi kekuatan fisik yang rill untuk "show" (sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri). Tapi sayang, skalasinya bersifat "tersegmentasi pada kantong-kantong tertentu". Aksi-aksinya lebih bersifat sporadis, ketimbang skematis, karena tidak terorganisir dengan baik. Hasilnya sudah bisa diguga, kurang maximal, bahkan bisa GATOT (Gagal Total).

Pemikiran-pemikiran yg terkooptasi oleh isu-isu primordialisme ini telah menjadi salah satu fenomena sosial maupun politik, kalaupun belum bisa dikategorikan sebagai satu bentuk "pathologi sosial atau pathologi politik di Timor Leste". Tapi pada level praxis, sulit menghilangkan "pathologi" yang satu ini, karena telah lama (berabad-abad) berurat akar, akibat praktik-praktik "politik devide et impera" (politik memecah-belah dan mengadu domba) yg dijalankan oleh kaum penjajah selama ratusan tahun di masa lalu. Sehingga residunya masih tetap bertahan sampai saat ini. Dan butuh sekian generasi untuk mengikis pathologi yang satu ini dari kehidupan berbangsa dan bernegara orang Timor Leste.

Sekadar contoh kecil, silahkan Anda simak "konfigurasi" para Kader PD (Partai Demokrat) yg diproyeksikan untuk bertarung dalam Pemilihan Pengurus Baru PD yg rencananya dilaksanakan pada tahun 2015 atau 2016 (JOAO MARTINS-JOAO BOAVIDA, MARIANO ASSANAMI-SAMUEL, GASTAO SOUZA-ANTONIO DA CONCEICAO dan CONSTANCIO PINTO-FRANCISCO BORLAKU).

Pertanyaannya adalah; "Kenapa pola ini yg dipilih?" Pasti "para Politikus PD" memiliki alasan khusus. Konfigurasi Calon Presiden dan Sekjen PD sebagaimana tampak di sini, tampaknya berangkat dari pertimbanhgan (pola berpikir) yg terkooptasi oleh isu-isu primordial yg berpola "dikotomist". Saya tidak mengatakan bahwa (cara dan metode) itu salah atau benar. Saya hanya sebatas mengungkapkan data dan fakta.

Kembali kepada isu utama yg melibatkan MM vs XG, saya hanya mau bilang; "Jika seseorang atau sekelompok orang bertindak dan bereaksi, pasti ada hal yg menjadi pemicu, pendorong, dan penyebab, sekaligus ada hasrat-hasrat tertentu yg menjadi target yg hendak dicapai". Dan ini masih sangat ABU-ABU.

Dari uraian ini muncul pertanyaan retoris (sebagai bahan reflexi) yg cukup menggoda untuk dimunculkan; "APA YANG SEBENARNYA KITA CARI DAN HENDAK KITA MILIKI DALAM HIDUP INI?" Jawabannya kita kembalikan kepada hal-hal yg menjadi dasar ke-BUTUH-an dari KODRAT kita sebagai MANUSIA BIASA yg memiliki hasrat-hasrat tertentu. Kita khan BUKAN TUHAN? KODRAT kita hanyalah MANUSIA BIASA.

Kalau KODRAT kita bukan TUHAN, maka pertanyaan (logika) yg paling sederhana adalah; "BENARKAH KITA SECARA TULUS, JUJUR, TANPA PAMRIH MEMPERJUANGKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN?" Jika benar, kenapa kita tidak jadi ORANG SUCI saja (SANTO atau SANTA)?

Hanya saja saya jarang sekali menemukan referensi yg pernah mencatat bahwa di masa lalu ada POLITISI yg bertransformasi menjadi ORANG SUCI. Kalau referensi yg mengatakan bahwa ada MANTAN KULI yg kemudian; atas BERKAT ALLAH bertransformasi menjadi ORANG SUCI, pernah terjadi, yakni mendiang Bapa Suci PAUS Yohanes Paulus II, orang Polandia yang pernah menginjakkan kakinya di Indonesia selama 5 hari dan mengunjungi Timor-Timur pada Kamis, 12 Oktober 1989.

Saya percaya bahwa; "Setiap perjuangan, apapun bentuknya, apapun levelnya, kita akan mendapatkan hasilnya sesuai dengan harapan dan cita-cita kita, jika perjuangan itu di-BERKAT-i. Dan ALLAH hanya bersedia mem-BERKAT-i, jika apa yg kita perjuangkan, memang di-TAKDIR-kan untuk kita oleh SANG KHALIK. Jika yg kita perjuangkan bukan sesuatu yg di-TAKDIR-kan untuk kita, maka ALLAH tidak akan mem-BERKAT-i perjuangan kita. Dan apapun upaya kita, apapun perjuangan kita, tanpa BERKAT ALLAH, pasti yg akan kita dapatkan adalah sebuah "NIHILISME".

Namun walau demikian, sebagai MANUSIA BIASA, kita wajib ber-TIRAKAT. Setidak-tidaknya kita pernah mencobanya, terlepas dari berhasil atau tidak. Entah kita mencoba karena percaya pada HUKUM TAKDIR, atau kita mencoba karena percaya pada HUKUM MOMENTUM, untuk mengadu keberuntungan.

Hukum Momentum yg saya maksudkan di sini bukan HUKUM MOMENTUM dalam ILMU FISIKA yakni; Massa X Kecepatan (yg sering saya ajarkan kepada mahasiswa ketika memberikan Kuliah Ilmu FISIKA, saat masih mengajar di UNDIL dan UNPAZ), melainkan "Hukum Momentum" yg berkaitan erat dengan rencana "pngunduran diri Perdana Menteri Xanana Gusmao", yg oleh sebagian orang dianggap sebagai "momentum" yg tepat untuk beraksi, walau mungkin sifatnya lebih kepada "gambling" (mengadu keberuntungan), ketimbang memiliki sebuah konsepsi yg matang.

Orang-orang yg suka mencoba mungkin menganut prinsip; "BIG THINK WITHOUT SMALL ACT IS NOTHING".

BUT IT DOES NOT MEAN THAT BIG THINK WITH SMALL ACT IS EVERYTHING. BIG THINK WITH SMALL ACT IS IMPORTANT. BUT SOMETIMES IF SMALL ACT THAT BASED ON BIG THINK, USED BY WRONG PERSON ON WRONG TIME IS USELESS. THIS MEANS THAT BIG THINK, WITH SMALL ACT, NEED RIGHT PERSON AND RIGHT TIME".

Jika muncul pertanyaan; "Siapa yang akan keluar sebagai pemenang dari konflik ini?" Saya tidak ragu untuk mengatakan; Konflik ini akan berakhir menjadi ABU & ARANG. Karena kedua-duanya memulainya dengan API".

Di mana pun, kapan pun dan atas alasan apa pun, sesuatu yg dimulai dengan API, pasti akan selalu berakhir menjadi ABU & ARANG. Nah, supaya tidak berakhir menjadi ABU & ARANG, dibutuhkan AIR untuk memadamkan API yg baru mulai menyala, tapi belum sempat membakar sesuatu.

Pertanyaannya adalah; "Siapa fihak yang dianggap memiliki OTORITAS mumpuni untuk bertindak sebagai AIR?" Saya yakin, anak kecil TK di Timor Leste pun tahu jawaban atas pertanyaan ini.

"Mereka yang cari nama hanya untuk kepentingannya sendiri akan kehilangan nama karena dunia akan melupakan mereka. Mereka yang tak mau belajar untuk mawas diri, akan membuat keputusan yg menyebabkan langkah mereka membawa mereka menuju liang kematian. Mereka yang bekerja dan berjuang demi takhta dan kekuasaan, akan menuai kegagalan".
(Hilel; Rabi & Pengajar Yahudi/30-9 Sebelum Masehi)

Semoga TUHAN YESUS Yang Mahasuci memberkati kita semua. Amin

sábado, 22 de Março de 2014

Timor no coração de João Paulo II


Prólogo

Neste ano da graça de 2014, a Igreja Católica romana quer colocar no trono dos Santos dois grande homens do século XX: João XXIII e João Paulo II. Por isso, nesta prévia abordagem, quero partilhar com caros leitores alguns laços de afectos que unem o povo de Timor ao coração da Igreja através do pontificado de João Paulo II.

O cerne da questão: Timor no coração de João Paulo II

Introduzo, agora, o quadro epistemológico que deve evidenciar algumas características que unem o povo de Timor à Igreja universal. De modo explícito, a sua visita a Timor e a homilia que foi proferida aos cristãos de Timor em Tasi-tolu, no dia 12 de Outubro de 1989, e que constituiu não só um marco importantíssimo para a Igreja de Timor como também uma viragem para a luta pela libertação do povo. Veremos também algumas intervenções em favor de Timor Leste perante o Mundo internacional, sem esquecer a sua mensagem para o Dia da Restauração da Independência de Timor Leste. Por último, atentaremos nas palavras proferidas aos Administradores Apostólicos de Timor nas suas visitas Ad Limina ao Vaticano.

Ler o artigo completo
>> Timor no coração de João Paulo II

quarta-feira, 19 de Março de 2014

Discurso do Papa Francisco aos Bispos da Conferência Episcopal de Timor Leste em Visita «Ad limina Apostolorum»

Amados irmãos no episcopado!

No amor de Cristo, saúdo cordialmente toda a Igreja de Deus em Timor Leste, aqui representada por vós, seus pastores, que viestes «conhecer Pedro» na pessoa do seu Sucessor e «pôr à sua apreciação» o vosso serviço à causa do Evangelho (cf. Gal 1, 18; 2, 2). Agradeço a D. Basílio, bispo de Baucau e presidente da Conferência Episcopal, as amáveis palavras que me dirigiu em nome de todos e que manifestam o crescimento admirável das vossas comunidades e o seu anseio de serem fiéis ao Evangelho. Alegro-me convosco, porque a sementeira da Boa Nova de Jesus, iniciada na vossa terra há quase quinhentos anos, cresceu e frutificou num povo que, desde a grande provação do último quartel do século XX, decidida e corajosamente se confessa católico. A criação da nova diocese de Maliana, nos princípios de 2010, e a instituição da Conferência Episcopal Timorense, nos fins de 2011, são sinais positivos da obra que o Senhor iniciou entre vós e quer levar a bom termo (cf. Flp 1, 6).

Estes sinais, ao mesmo tempo que exprimem a radicação da Igreja em Timor, convidam os seus filhos e filhas a um testemunho alto de vida cristã e a um redobrado esforço de evangelização para levarem a Boa Nova a todos os estratos da sociedade, transformando-a a partir de dentro (cf. Exort. ap. Evangelii nuntiandi, 18). Pelos vossos relatórios quinquenais e demais notícias, pude dar-me conta do espírito fraterno que anima o povo timorense e os seus líderes na construção duma nação livre, solidária e justa para todos. Ao longo destes anos que vos separam da última visita ad limina – realizada em Outubro de 2002, ou seja, poucos meses depois do suspirado e venturoso nascimento da vossa Pátria –, não faltaram dolorosas surpresas de ajustamento nacional, com a Igreja a recordar as bases necessárias duma sociedade que pretenda ser digna do homem e do seu destino transcendente. Estou certo de que vós, com os sacerdotes, continuareis a desempenhar a função de consciência crítica da nação, mantendo para isso a devida independência do poder político numa colaboração equidistante que lhe deixe a responsabilidade de cuidar e promover o bem comum da sociedade.

De facto, a Igreja pede apenas uma coisa no âmbito da sociedade: a liberdade de anunciar o Evangelho de modo integral, mesmo quando vai contra corrente defendendo valores que ela recebeu e a que deve permanecer fiel. E vós, queridos irmãos, não tenhais medo de oferecer esta contribuição da Igreja para bem da sociedade inteira. Faz-nos bem lembrar estas palavras do Concílio Vaticano II: «As alegrias e as esperanças, as tristezas e as angústias dos homens de hoje, sobretudo dos pobres e de todos aqueles que sofrem, são também as alegrias e as esperanças, as tristezas e as angústias dos discípulos de Cristo; e não há realidade alguma verdadeiramente humana que não encontre eco no seu coração» (Const. past. Gaudium et spes, 1). Na verdade o Pai do Céu, ao enviar seu Filho na nossa carne, pôs em nós as suas entranhas de misericórdia. E, sem a misericórdia, poucas possibilidades temos hoje de nos inserir num mundo de “feridos” que tem necessidade de compreensão, de perdão, de amor. Por isso, não me canso de chamar a Igreja inteira à «revolução da ternura»(Exort. ap. Evangelii gaudium, 88). Os agentes de evangelização devem ser capazes de aquecer o coração das pessoas, de caminhar na noite com elas, de dialogar com as suas ilusões e desilusões, de recompor as suas desintegrações.

Sem diminuir o valor do ideal evangélico, é preciso acompanhar, com misericórdia e paciência, as etapas possíveis de crescimento das pessoas, que se vão construindo dia após dia. Por isso, na partilha fraterna e solidária da Conferência Episcopal, voltai repetidamente sobre este desafio duma sólida formação de sacerdotes, religiosos e fiéis leigos. Grandes esperanças depositais nos vossos Seminários, Noviciados e, ultimamente, no Instituto Superior de Filosofia e Teologia «Dom Jaime Garcia Goulart»; mas não deixeis de provocar e fazer crescer a corrente de solidariedade também entre outras Igrejas locais, nomeadamente com o envio de seminaristas maiores para fazerem seus estudos em universidades eclesiásticas ou – talvez com maior proveito – sacerdotes para as especializações mais necessárias aos diversos serviços da comunidade eclesial de Timor Leste. Fazem falta formadores e professores qualificados de teologia nomeadamente para consolidarem os resultados alcançados no campo da evangelização enriquecendo a Igreja com o seu “rosto timorense”.

Naturalmente não se pretende uma evangelização realizada apenas por agentes qualificados, enquanto o resto do povo fiel seria apenas receptor das suas acções. Pelo contrário, temos de fazer de cada cristão um protagonista. «Se uma pessoa experimentou verdadeiramente o amor de Deus que a salva, não precisa de muito tempo de preparação para sair a anunciá-lo, não pode esperar que lhe dêem muitas lições ou longas instruções. Cada cristão é missionário na medida em que se encontrou com o amor de Deus em Cristo Jesus» (Ibid., 120). E, se alguém acolheu este amor que lhe devolve o sentido da vida, não poderá conter o desejo de o comunicar aos outros. Aqui está a fonte da acção evangelizadora. O coração crente sabe que, sem Jesus, a vida não é a mesma coisa. Pois bem! Aquilo que descobriu, o que o ajuda a viver e lhe dá esperança, isso deve comunicar aos outros.

Como sabemos, amados irmãos, em todos os baptizados – desde o primeiro ao último – actua o Espírito que impele a evangelizar. Esta «presença do Espírito confere aos cristãos uma certa conaturalidade com as realidades divinas e uma sabedoria que lhes permite captá-las intuitivamente, embora não possuam os meios adequados para expressá-las com precisão» (Ibid., 119). Nestas limitações da linguagem, vemos aflorar a necessidade de evangelizar as culturas para inculturar o Evangelho, porque «uma fé que não se torna cultura – como escrevia João Paulo II – é uma fé não plenamente acolhida, não inteiramente pensada e não fielmente vivida» (Carta de fundação do Conselho Pontifício da Cultura, 20 de Maio de 1982, 2). Se, nos vários contextos culturais de Timor Leste, a fé e a evangelização não forem capazes de dizer Deus, anunciar a vitória de Cristo sobre o drama da condição humana, abrir espaços para o Espírito renovador, é porque não estão suficientemente vivas nos fiéis cristãos, que necessitam de um caminho de formação e amadurecimento. Isto «implica tomar muito a sério em cada pessoa o projecto que Deus tem para ela. Cada ser humano precisa sempre mais de Cristo, e a evangelização não deveria deixar que alguém se contente com pouco, mas possa dizer com plena verdade: “Já não sou eu que vivo, mas é Cristo que vive em mim” (Gal 2, 20)» (Exort. ap. Evangelii gaudium,160).

E, se vive no crente, Cristo abrirá as páginas com o desígnio de Deus ainda seladas para as culturas locais, fazendo despontar outras formas de expressão, sinais mais eloquentes, palavras cheias de renovado significado. No livro do Apocalipse (cf. 5, 1-10), há uma página elucidativa: fala-se de um livro fechado com sete selos, que só Cristo é capaz de abrir; Ele é o Cordeiro imolado, que, com o seu sangue, resgatou para Deus, homens de todas as tribos, línguas, povos e nações. Timor Leste, o Céu resgatou-te, para que te abras ao Céu. Tudo isto representa uma série de desafios para permitir uma compreensão mais fácil da Palavra de Deus e melhor recepção dos Sacramentos. Mas um desafio não é uma ameaça. A consciência missionária supõe hoje possuir o valor humilde do diálogo e a convicção firme de apresentar uma proposta de plenitude humana no vosso contexto cultural.

Amados irmãos no episcopado, quis limitar-me a três pontos, objecto das vossas preocupações: o primeiro, a vossa contribuição como consciência crítica da nação; o segundo, movida por entranhas de misericórdia, a Igreja inteira sai em missão; e, enfim, exprimir a Boa Nova da salvação nas línguas locais. Parece-me poder reconduzir tudo a esta imagem que vos é familiar e amada: o povo fiel em peregrinação aos santuários marianos, sob a guia do Bispo (digo «guiar», que não é sinónimo de comandar, dominar). E o lugar do Bispo pode ser triplo: à frente, para indicar o caminho ao seu povo; no meio, para o manter unido e neutralizar debandadas; ou atrás, para evitar que alguém se atrase ou desgarre, mas, fundamentalmente, porque o próprio rebanho é dotado de olfacto para encontrar novos caminhos: o sentido da fé. Em todo o caso, sede homens capazes de sustentar, com amor e paciência, os passos de Deus em seu povo e valorizai tudo aquilo que o mantém unido, acautelando de eventuais perigos, mas sobretudo fazendo crescer a esperança: haja sol e luz nos corações! Ao mesmo tempo que vos agradeço todos os esforços realizados ao serviço do Evangelho, peço ao povo timorense que reze por mim; eu confio-o à protecção da Imaculada Conceição – invocada carinhosamente sob o título de «Virgem de Aitara» – por cuja intercessão imploro para vós, para os sacerdotes, os religiosos e religiosas, para os seminaristas, noviços e noviças, para os catequistas, os animadores dos movimentos eclesiais e a briosa juventude, para as famílias com as suas crianças e os seus idosos e todos os restantes membros do povo de Deus, a abundância das graças do Céu, em penhor das quais lhes concedo a Bênção Apostólica.

Segunda-feira, 17 de Março de 2014


terça-feira, 18 de Março de 2014

Universidades de Coimbra e de Timor-Leste reforçam parceria

Terça, 18 de Março de 2014
por Acabra.Net

Na cerimónia que decorreu na Sala do Senado esteve também presente o vice-ministro da Educação de Timor-Leste, Virgilio Simith. Foto por Rafaela Carvalho
Os mestrados de Direito e Ensino da Língua Portuguesa na Universidade Nacional de Timor-Leste vão ser coordenados pela Universidade de Coimbra. De futuro a parceria vai se estender a outras áreas como a História e Geografia. Por João Martins

Os reitores da Universidade de Coimbra (UC) e da Universidade Nacional de Timor-Leste assinaram ontem, 17, dois protocolos que visam a coordenação de cursos de mestrados em Direito e em Ensino em Língua Portuguesa por parte da UC.

A formalização desde acordo, no fundo, traduz-se num “reforço da parceria” que já vem a ser desenvolvida desde 2011, segundo o vice-reitor da UC para as relações internacionais, Joaquim Ramos de Carvalho. De facto já existia uma colaboração com o mestrado em Língua e Linguística Portuguesa, que agora evoluiu no sentido de formar professores para o ensino de português com a coordenação do mestrado em Língua Portuguesa.

Para o vice-reitor, este novo acordo é um sinal de que a colaboração está a “correr bem” e que ambas as partes “têm vontade de continuar a trabalhar pelo desenvolvimento do Ensino Superior em Timor-Leste”. No que diz respeito ao mestrado em Direito, o curso conta com a colaboração de outras universidades portuguesas, contudo a sua coordenação administrativa é feita pela UC.

O objetivo desta estratégia conjunta, de acordo com Ramos de Carvalho, é “deslocar recursos humanos” com o objetivo de proporcionar o “arranque” dos novos docentes para as atividades letivas.

O vice-reitor considera que este protocolo, para além de reforçar os laços entre as duas instituições, vem também consolidar a “difusão da cultura académica portuguesa no mundo”. Ramos de Carvalho acrescenta que a UC está “consciente das responsabilidades” e está “virada estrategicamente para não deixar simplesmente à História este papel de instituição de referência do mundo português”.


Na cerimónia que decorreu na Sala do Senado esteve também presente o vice-ministro da Educação de Timor-Leste, Virgilio Simith, que, segundo Joaquim Ramos Carvalho, veio expressar o seu interesse em que a colaboração se estendesse às áreas de História e Geografia. O vice-reitor adianta que vai ser assinado uma terceira vertente do acordo para a “formação de professores e desenvolvimento do currículo de História no ensino secundário”.

http://acabra.net
http://acabra.net/artigos/universidades-de-coimbra-e-de-timor-leste-reforam-parceria

who's online