VISAO MISAO OBJECTIVO HAKSESUK BOLA FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE

20101202

DHUAFA’, MARHAEN, MAUBERE

Oleh: Jose Maria Guterres*

DHUAFA’

Istilah Dhuafa’ atau kaum dhuafa’ berasal dari bahasa Arab yang artinya lemah, tak berdaya atau dengan kata lain orang-orang tak berpunya. Kaum dhuafa terdiri dari anak-anak yatim, fakir miskin, orang-orang terlantar dan orang cacat. Kaum dhuafa adalah orang-orang miskin yang ada di jalanan, di pinggiran kota dan disudut-sudut lingkungan kumuh.

Para dhuafa ini bekerja sebagai buruh bangunan, pengemis jalanan, abang becak, pemulung dan pedagang asongan. Penderitaan yang dialami kaum duafa menyebabkan mereka menjadi sangat rentan dengan berbagai macam penyakit menular dan ancaman bunuh diri. Contoh, mereka yang menderita penyakit menular seperti kusta, malaria, demam berdarah dan berbagai jenis penyakit lainnya adalah mereka yang miskin dan berasal dari lingkungan kumuh. Demikian halnya dengan orang-orang yang terinfeksi penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS adalah kebanyakan dari kalangan miskin yang tidak memahami pentingnya menjaga kesehatan tubuh.

MARHAEN

Sedangkan Marhaen adalah istilah politik yang pertama kali dicetuskan oleh Ir. Soekarno (Presiden Pertama RI), ketika beliau bertemu dengan seorang petani kecil di desa Cigalereng, Bandung Selatan bernama Marhaen, pada tahun 1917. Bagi Bung Karno, Pak Marhaen adalah simbolisasi dari lapisan masyarakat dari kelas yang paling rendah, yang merupakan bagian terbesar dari rakyat Indonesia pada saat itu. Pak Marhaen adalah seorang petani kecil yang memiliki alat produksi, bekerja dengan seluruh waktunya, akan tetapi tetap menderita karena hidup dalam sistem yang menindasnya.

Bagi Soekarno idiologi Marhaenisme adalah idiologi perjuangan bagi golongan masyarakat yang dimiskinkan oleh sitem kolonialisme, imperalisme, feodalisme dan kapitalisme. Pengertian Marhaen yang merupakan asal usul dicetuskannya idiologi Marhaenisme, menurut Soekarno adalah golongan masyarakat miskin, yang terdiri dari tiga pilar yaitu:

satu, kaum proletar Indonesia atau kaum buruh.

Kedua, kaum tani melarat Indonesia.

Dan ketiga, kaum masyarakat melarat Indonesia lainnya.

Soekarno juga menjelaskan golongan mana yang disebut dengan kaum Marhaenis, yang tidak lain adalah kaum yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen dan bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen, yang hendak menumbangkan sistem kapitalisme, imperalisme serta kolonialisme, dan kaum yang bersama-sama dengan Marhaen membanting tulang untuk membangun negara dan masyarakat yang kuat, bahagia-sentosa serta adil dan makmur. Pernyataan ini semakin ditegaskan oleh Soekarno dalam pernyataannya: “Pokoknya, Marhaenis adalah setiap orang yang menjalangkan Marhaenisme seperti yang saya jelaskan. Camkan benar-benar !!!

setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama dengan kaum Marhaen”. Pandangan Soekarno yang memperlihatkan kebenciannya terhadap sistem kapitalisme, imperalisme dan kolonialisme yang dianggapnya sebagai sumber malapetaka penyebab kemiskinan masyarakat Indonesia, dapat dilihat dari petikan pidatonya yang mensyaratkan perlunya kerjasama dengan kaum tertindas dalam merubah sistem yang exploitatif.

MAUBERE

Sementara itu, berdasarkan perbincangan penulis dengan Avo Fransisco Xavier do Amaral baru-baru ini, di suatu sore di pantai Pasir Putih (Area Branca), bahwa nama Maubere berasal dari bahasa Mambae. Avo Xavier menceritakan, di zaman Portugues, ada seseorang dari Turiscai yang bernama Maubere. Si Maubere ini orangnya pendek, kulitnya hitam, (bahkan lebih pendek dari Avo Xavier), berperut buncit serta tidak mempunyai pekerjaan (jobless). Rutinitas yang dilakukan oleh Pak Maubere setiap harinya adalah keliling kota Dili hanya berjalan kaki, dengan tujuan untuk mengais rezeki dengan cara meminta-minta makanan (Paun no Kezu) kepada orang-orang (terutama Malae Mutin) agar dapat menyambung hidupnya.

Tempat yang lebih sering di kunjungi Pak Maubere adalah Bairo Dos Grilos, karena komplek ini banyak dihuni oleh Malae Mutin. Avo Xavier menambahkan, uniknya, rezeki yang dikumpulkan oleh Maubere itu tidak dinikmati sendiri olehnya, melainkan bersama dengan teman-temannya dari Lekidoe, Turiscai dan Remixio. Di mata Malae Mutin, Pak Maubere menjadi terkenal karena mereka selalu bertemu setiap harinya. Sekaligus bagi mereka (Malae Mutin) Pak maubere menjadi representasi dari orang-orang tidak berpunya (kbi’t laek).

Sehingga, pada tahun 1974-1975, Ramos Horta, Sahe, Fransisco Borza dan kawan-kawan meneksploitasi nama Maubere menjadi istilah politik sekaligus sebagai simbol perlawanan. Kaum Maubere bila ditinjau dari aspek sosiologis adalah kelompok masyarakat dari kelas yang paling rendah, dengan karakteristik tidak tahu membaca dan menulis.

Situasi kaum ini tak ubahnya seperti budak. "Maubere oan sira nia folin iha sosiadade ne, folin laek. Karakteristikas seluk nebe refere ba Maubere mak sira nebe “kabala lipa, ain tanan no foer. Iha foho karik dehan sira hakfolik. Tipikamente Maubere hanesan ema primitivu iha Timor-Leste".

Maubere-isme adalah suatu idiologi yang dikembangkan oleh Ramos Horta, Fransisco Borza dan Sahe untuk membela rakyat Timorense dari penindasan dan pemerasan oleh kaum kapitalisme, imperalisme/kolonialisme serta feodalisme, dengan tujuan untuk membangun masyarakat Timorense yang adil dan makmur serta beradab dan bebas dari segala macam penindasan dan pemerasan yang dilakukan baik, oleh bangsa atas bangsa, maupun manusia atas manusia. Pada kenyataannya keinginan tersebut tidak dapat diraih pada saat itu, dan keprihatinan atas permasalahan bangsa Timor inilah yang merupakan titik tolak dari pengkajian Ramos Horta dan kawan-kawan dalam melahirkan idiologi Maubereisme. Golongan masyarakat yang miskin dan melarat inilah yang disebut Ramos Horta Maubere.

Kata Maubere dan Buibere adalah sebuah kekuatan yang dapat mengikat dan menyatukan seluruh komponen masyarakat Timorense, husi Lorosae to’o Loromonu, Tasi feto to’o tasi mane no husi Jako to’o Oecusse, baik itu tua-muda, perempuan-laki-laki dan anak-anak, untuk menuju ke sebuah cita-cita yang paling luhur dan mulia, yang tidak dapat ditawar dan dihargai dengan apapun yaitu mate ka moris ukun rasik-an. Dengan keampuhan kata Maubere yang merupakan simbolisasi masyarakat Timorense sebagai kaum berleki atau tidak berpunya pada saat itu, membuat Ramos Horta dan kawan-kawan dengan begitu mudah untuk menarik simpati mayoritas Mauberis dan Buiberis untuk menyatukan barisan, dan dalam waktu yang singkat mereka dapat membebaskan Timor sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat secara unilateral, yang diberi nama Republica Democratica Timor-Leste (RDTL) pada tanggal 28 November 1975.

Tercapainya cita-cita ukun rasik-an yang dipelopori oleh para founding fathers itu merupakan klimaks dari semua upaya yang telah diperjuangkan oleh Dom Boaventura dan para leluhur lainnya selama ratusan tahun sebelumnya. Andaikata pada saat itu, Ramos Horta dan kawan-kawan tidak mendengar atau bertemu dengan Pak Maubere di kota Dili, akan tetapi berjalan-jalan di desa-desa sekitar Afaloicai (Sub-Distrik Baguia) dan ia berjumpa dengan saudara-saudara penulis seperti Pak Kaiboru, Mauboru dan Watumau, maka tentu ia akan menamakan: Kaiboru-isme, Mauboru-isme atau Watumau-isme

Post-independence, konteks Maubere identik dengan kemiskinan dan kelaparan. Gejala ini lebih tepat ditujukan kepada saudara-saudara kita yang tidak memiliki pekerjaan tetap alias menganggur, orang-orang miskin, anak-anak yatim, kaum yang menderita penyakit tertentu serta para janda pahlawan kemerdekaan. Berdasarkan laporan dari Bank Dunia, tahun 2002-2007, penduduk miskin Timor-Leste diatas 50 persen, namun dari tahun 2008-sekarang penduduk miskin TL berkurang menjadi 49 persen dari total population (source STL). Dari angka ini bisa disimpulkan bahwa hampir separuh dari total penduduk TL dikategorikan miskin.

Dalam perjalanan pembangunan bangsa, tujuan paling hakiki adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pengangguran dan kemiskinan merupakan musuh bersama dan bahkan merupakan komitmen global (Kaman Nainggolan, 2008). Adalah tangunggjawab negara-pemerintah dan seluruh stakeholders untuk memberantas kemiskinan.

Kay Rala Xanana Gusmao, Taur Matan Ruak, Lere Anan Timur, Falur Rate Laek, Maunana, Sabika, Aluk hamutuk ho maluk lubuk ida nebe agora sei iha Metinaru, balun agora iha liur, no barak agora la hamutuk ho ita, no hamutuk ho povu Aileba tomak konsege liberta duni patria husi kolonialismo, maibe seidauk liberta povu Maubere husi kiak no mukit. Buat ida ke laos facil maibe mos laos deficil. ITA HEIN !!!

* Penulis Alumni Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta

Sem comentários:

Enviar um comentário

Nota: só um membro deste blogue pode publicar um comentário.