VISAO MISAO OBJECTIVO SPORTIMOR FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE

terça-feira, 25 de novembro de 2014

Maraknya Multi-Level Marketing di Timor-Leste

Penulis: João Soares Reis Pequinho, Technical Advisor - Asosiasaun Defisiensia Timor-Leste (ADTL), Dili, Timor-Leste.
Semakin hari semakin lama kehidupan masyarakat kita berubah mengikuti perkembangan ekonomianya yang terus maju. Oleh para pelaku bisnis ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bisnis, baik itu yang bermanfaat sosiak maupun yang hanya mementingkan diri atau selfish. Salah satu kegiatan bisnis yang menarik untuk dikaji adalah kegiatan bisnis Multi-Level Marketing (MLM). MLM adalah istilah yang sudah diperhalus untuk menjelaskan tentang bisnis produk-produk luar negeri seperti K-link, Tianshi, Supamas, Bio Young, Bio Disk, Anion, Triple-S, Matol dan lainnya yang telah beredar dengan cepat di Dili bahkan telah mencapai daerah-daerah pelosok di Timor-Leste.

Sudah jatuh ditimpa malang karena sakit yang berkepanjangan, malah jatuh ditimpa tangga karena mengkonsumsi produk obat-obatan yang harganya mahal dan tidak tahu efek sampingnya. Lebih buruk lagi beberapa agen perdagangan memperdagangkan sakitnya pelangan/pasien untuk mendapatkan keuntungan untuk diri-sendiri. Beberapa agen bahkan rela melakukan penipuan informasi bahwa berkat produk-produk mereka, kondisi gagal ginjal stadium empat atau gagal ginjal total dapat disembuhkan. Sebagaimana kita ketahui bahwa gagal ginjal dan gagal jantung adalah sebuah kondisi kesehatan seseorang yang secara medis sulit untuk sembuh apalagi kembalikan ke keadaan semula.

Bisnis MLM di Timor-Leste mempunyai ciri khas menarik apabila di tinjau dari cara mereka menarik pelangan. Sebagai contoh, sebuah agen di Dili menarik pelangannya dengan cara bekerja sama dengan figur politik dan pejabat Negara. Yang lain menarik pelangan dengan cara bekerja sama dengan para pemuka agama. Maklum, pejabat Negara dan pemuka agama di Timor-Leste rata-rata tidak mempunyai kegiatan yang padat, oleh karena itu mereka dengan mudah dapat dimanfaatkan untuk ikut menjadi penjual obat. Tempat dagang obatnya pun eksklusif karena menggunakan tempat mewah untuk pertemuan. Bio Disc sebagai contoh, mereka menggunakan Hotel Timor untuk acara menjual produk-produknya. Dalam sebuah acara, salah seorang menjadi penjual obat produk dalam kemasan botol aqua yang dimasukan pembalut haid. Aneh dan menjijikan tetapi sang mentri melakukannya dan ia begitu percaya diri bahwa berkat produk tersebut ia menjadi kuat. Sebuah data menyimpulkan bahwa hampir semua pejabat Pemerintah dan pejabat Negara di Dili mengkonsumsi pembalut haid berwarna biru.

Opini ini tidak bermaksud untuk mempertanyakan keyakinan seseorang terhadap produk obat-obatan yang beredar di pasar. Karena kesehatan seseorang sepenuhnya menjadi tanggungjawab pribadi setiap orang. Walaupun demikian, kesehatan masyarakat menjadi tanggungjawab Negara. Oleh karena itu, kebijakan tentang mendatangkan, distribusi dan konsumsi obat-obatan semua itu menjadi kepentingan umum dan patut untuk mempertanyakan sejauhmana kemampuan Negara melalui pemerintah khususnya ministeriu saude dan instansi terkait mampu melindungi masyarakatnya dari bahaya mengkonsumsi obat-obatan yang berbahaya bagi kesehatan.

Kembali lagi ke bisnis model MLM, jenis bisnis tersebut dapat digambarkan seperti gambar piramida, bahwa pada akhirnya hanya menguntungkan beberapa orang utama. Semakin banyak pelangan yang mampu untuk merekrut lebih banyak pengikut untuk membeli produknya akan membawa penghasilan yang lebih tinggi kepada orang yang duduk di atas piramida. Metode bisnis ini dilihat sederhana tetapi berbahaya. Oleh karena itu, kurang lebih 34 Negara telah melarang kegiatan bisnis tersebut diantaranya Australia, Africa Selatan, German, Brasil, China, Denmark, Estonia, Amerika Serikat, Perancis, Hong Kong, Iran, Jepan, Malaysia, Portugal, Romania, Srilanka, Thailand dan beberapa Negara lainnya.

Berbeda halnya dengan Indonesia adalah sebuah Negara yang menjadi lahan subur untuk bisnis MLM. Hingga tahun 2014 terdaftar 40 jenis produk yang beredar, mereka kemudian bergabung dalam sebuah kelompok yang dinamai Asosiasi Penjual Langsung Indonesia atau disingkat APLI. Oleh karena dapurnya Timor-Leste adalah Indonesia maka apapun yang dikonsumsi mereka dikonsumsi oleh masyarakat kita di Timor-Leste. Oleh karena itu, masyarakat dan Negara wajib mengikuti perkembangan kebijakan tentang makanan, minuman dan obat-obatan di Indonesia. Misalnya pada 15 Oktober 2010 lalu Departemen Kesehatan Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melarang 46 produk obat-obatan karena mengandung bahan kimia berbahaya. Di sisi lain, di kota Dili marak dengan kegiatan klinik china dengan produk obat-obatan yang semuanya menggunakan bahasa china. Sudah demikian keadaannya tetapi Ministeriu Saude dan pihak terkait tidak mengambil sikap apapun. Padahal obat-obatan tersebut sedang beredar bahkan sudah di konsumsi dan mungkin sudah mematikan masyarakat kita. Disarankan agar ministeriu saude agar segera mencari pendapat dari organisasi kesehatan dunia (WHO) agar dapat mengembangkan sistem kontrol terhadap import dan distribusi makanan dan obat-obatan di Timor-Leste.

Kembali ke bisnis MLM ini sudah nyata dilarang karena metodenya yang dikategorikan sebagai penipuan terhadap konsumen. Bisnis ini di luar negeri dikenal dengan istilah pyramid scheme business yang mengandalkan janji-janji kepada pelangan bahwa semakin banyak mengkonsumsi produk-produk tersebut pelangan atau dalam hal ini konsumen akan mendapatkan pembayaran dan jasa mahal dan eksklusif. Hal ini menyebabkan beberapa agen di Dili menjanjikan kepada pelangannya bahwa setiap pelangan akan mendapatkan transfer uang dalam jumlah besar langsung ke rekening masing-masing. Beberapa orang yang di wawancarai untuk tulisan ini menyampaikan kekecewaan mereka bahwa hingga kini belum mendapatkan uang banyak walaupun mereka sudah menghabiskan ribuan dolar untuk membeli produk-produk tersebut. Korban dari bisnis MLM jumlahnya terus meningkat bahkan tidak menusiawi. Beberapa orang penyandang cacat penglihatan (defisiensia matan) ikut menjadi korban. Dari temuan diatas dapat simpulkan bahwa MLM produk obat-obatan ini bukan berorientasi pada hak atas kesehatan konsumen tetapi lebih menekankan pada keuntungan bagi bisnis perusahaan.

Masyarakat kita harus dilatih untuk berpikir kritis dan menggunakan logika agar tidak mudah tertipu. Penulis menarik kesimpulan bahwa ketertarikan masyarakat terhadap produk obat-obatan luar negeri melalui jalur MLM menjadi tinggi karena didorong oleh faktor ketidakpercayaan masyarakat terhadap kinerja kerja dan pelayanan kesehatan di Timor-Leste. Sebuah analisis bahkan mengatakan bahwa faktor privatisasi dan komersialisasi jasa dan fasilitas kesehatan publik turut memberikan kontribusi terhadap maraknya MLM obat-obatan luar negeri di Timor-Leste. Penulis berharap melalui tulisan ini Negara, Pemerintah dan masyarakat di ingatkan untuk waspada dan segera mengambil sikap tegas demi menyelamatkan kesehatan generasi yang akan datang.

Penulis: João Soares Reis Pequinho, Technical Advisor - Asosiasaun Defisiensia Timor-Leste (ADTL), Dili, Timor-Leste.

Sem comentários:

Enviar um comentário

Nota: só um membro deste blogue pode publicar um comentário.