VISAO MISAO OBJECTIVO SPORTIMOR FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE

quinta-feira, 27 de outubro de 2011

TL-1DAN BERKAH XANANA GUSMÃO

José Maria Guterres

Tak lama lagi masyarakatTimor-Leste akan menyelenggarakan pesta demokrasi untuk yang ketiga kalinyasetelah bangsa ini merestorasi kemerdekaannya pada tanggal 20 Mei 2002. Padaeven ini, sekali lagi rakyat Timor-Leste diberikan kesempatan untuk menggunakanhak pilihnya untuk memilih Presiden Republik (PR) dan Wakil Rakyat di Parlemen.

Tentu saja karakteristikpemilih pada pemilu kali ini akan berbeda dengan dua Pemilihan Umum (Pemilu) sebelumnya. Pemilu pertama tahun 2002 mayoritas kursi di parlemen dikuasai olehpartai Fretilin, yakni dengan 57 kursi, dan partai Fretilin membentuk pemerintahan sendiri karena menang dengan mayoritas absolut. Wajar dan pantassaja partai Fretilin menang dengan mudah pada pemilu kala itu karena hampir mayoritas kekuatan resistensi mendukung partai Fretilin, ditambah lagi dengan euphoria kemerdekaan yang lebih memihak Partai tersebut, juga mayoritas masyarakat mempersembahkan suaranya kepada partai bersejarah tersebut sebagai sebuah hadiah atas kontribusi Fretilin sebagai suatu gerakan dalam memperjuangkan kemerdekaan masayarakat Timor-Leste.

Sementara jabatan PR dimenangkan oleh tokoh historik dan pahlawan kemerdekaan, Xanana Gusmao. Sama seperti partai Fretilin, Xanana juga dengan mudah memenangkan pemilihan PR hanya dengan satuputaran. Mengingat setelah era Fransisco Xavier do Amaral dan Nicolau Lobato, Xanana menjadi satu-satunya tokoh yang memimpin, mengorganisir, dan merestrukturisasi formasi strategi perjuangan sesuai perkembangan politik dunia dari tahun 1980-an sampai Timor-Leste meraih kemerdekaannya. Atas jasa-jasanya yang begitu besar bagi bangsa dan negaranya sehinggga ia dipandang sebagai simbol unidade nasional dan tokoh rekonsiliasi bagi berbagai komponen masyarakat. Dengan berbagai predikat yang melekat pada dirinya, membuat Xanana begitu dihargai dandikagumi serta disegani baik oleh rakyatnya maupun komunitas internasional.

Sebaliknya di tahun 2007, hasil pemilu sangat kontras sekaligus mengejutkan. Tanpa diduga Fretilin sebagai partai bersejarah dan incumbent padawaktu itu hanya memperoleh 21 kursi di parlemen. Lebih ironis lagi, kandidat favorit Partai Fretilin Fransisco Guterres Lu-Olo yang juga merupakan Presiden Partai historik tersebut menderita kekalahan dalam pemilihan PR melawan Ramos-Horta padaputaran kedua. Seperti kata orang ”sudah jatuh, tertimpa tangga pula”. Kemenangan Ramos-Horta atas Lu-Olo sebagai pesaing terkuat bukan semata-mata oleh nama besar Horta sebagai tokoh internasional atau penerima hadiah nobel perdamaian, melainkan ada faktor lain yang melatarbelakanginya. Figur Lu-Olodan Fernando Lasama pada saat itu dianggap tidak tepat (mohon dibedakan bukan tidak mampu) seandainya menjadi PR, karena adanya krisis politik-militer dan konflik regionalisme yang terjadi pada tahun 2006.

Dengan kondisi yang demikian, mau tidak mau Ramos-Horta menjadi satu-satunya figur yang dinilai tepat untuk mengisi posisi yang sangat bergengsi di republik ini. Selain dianggap sebagai figur yang netral untuk mengakomodasi kepentingan kelompok-kelompok berkonflik seperti Lorosae-Loromonu, Horta juga menjadi mediator bagi jajaran F-FDTL, Alfredo Reinado dan kelompok Petisioner yang berbeda pendapat pada saat itu.

Namun demikian, jalan Ramos-Horta menuju TL-1 tidak semudah seperti yang dibayangkan, nama besar Horta sebagai diplomat ulung dan peraih nobel perdamaian tidaklah cukup untuk mengantarkannya ke singgasana kekuasaan. Horta tetap butuh invisible dan visible hands dari berbagai pihak untuk memenangkannya. Pada kampanye putaran pertama Ramos-Horta tahun 2007 di Gedung Mata Hari Terbit, massa yang berpartisipasi tidak begitu banyak karena Horta hanya didukung oleh partai-partai kecil (Undertim dan PMD), dan hampir semua partai besar (kecuali Fretilin) serta organisasi massa termasuk individu-individu yang mendukung pencalonan Ramos-Horta, faktor Xanana yang sangat menentukan kemenangan Horta pada putaran kedua tersebut. Kalau tidak berlebihan, berkah Xanana Gusmao-lah yang paling dominan dan menentukan kemenangan Ramos-Horta pada pemilu 2007. Andaikata pemilu presiden putaran kedua, Xanana dan CNRT-nya tidak mendukung Ramos-Horta, publik tidak akan pernah tahu apakah Ramos-Horta sekarang menjadi orang nomor satu di negeri ini. Atau yang terjadi justru sebaliknya? Fernando Lasama atau Lu-Olo yang kini duduk di kursi kepresidenan.

Fenomena politik dalam pemilu PR yang pertama tahun 2001 dan kedua 2007 mempunyai satu formula yang sama yaitu pemenangnya selalu datang dari calon independen, Xanana pada 2001, Ramos-Horta pada 2007. Akankah fenomena yang sama akan terulang kembali di 2012? Biar waktu dan alam yang akan menentukan.

Tentu saja pemilu PR kali ini akan memberi nuansa yang berbeda sekaligus menarik untuk dianalisis. Seperti yang selama ini publik amati dan ikuti via media bahwa ada beberapa kandidat yang telah secara resmi mendeklarasikan pencalonannya kepada publik, seperti Fernando Lasama, dari partai Demokrat, Taur Matan Ruak (Taur), Manuel Tilman, Abilio Araujo telah mencalonkan diri sebagai calon independen, selain itu medianasional juga menyebut nama-nama seperti Lucas da Costa dan Rogerio Lobato.

Di sisi lain, masyarakat sedang menanti kapan partai Fretilin akan menyampaikan kandidatnya untuk memperebutkan kursi PR ke khayalak. Tak kalah menarik publik juga penasaran akankah sang incumbent presiden flamboyan Ramos-Horta kembali bertarung untuk kedua kalinya? Rasanya tidak menarik jika Ramos-Horta dan calon dari Fretilin sampai tidak meramaikan pemilu presiden kali ini. Akankah partai Fretilin mencalonkan Ramos-Horta untuk pemilu PR mendatang?

Dari semua kandidat yang telah penulis sebutkan di atas, tanpa berpretensi men-underestimate kandidat yang lain, penulis mencoba fokus kepada beberapa kandidat yang sekiranya berpotensi menjadi kampiun seperti Jeneral (Ref). Taur, Fernando Lasama, Lu-Olo atau presiden incumbent Ramos-Horta. Karena keempat kandidat ini memiliki keunggulan dan kekuatan, yang selain datang dari partai, keempat-nya pun mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing sebagai individu.

Taur adalah seorang veteran perang dan pahlawan kemerdekaan. Bersama comrades-nya seperti Xanana Gusmao, David Alex Daitula, Nino Konis Santana, Lere Anan Timur beserta para pahlawan lain, baik yang telah tiada maupun yang masih hidup, para pahlawan ini telah mengantarkan Timor-Leste mencapai cita-cita mulia bangsa, yaitu “ukun rasik-an”. Meminjam kalimat Bispo Baucau, Dom Basilio do Nascimento, “Taur nudar lider ida konsensual”. kalau penulis artikan maka Taur merupakan lider yang dapat diterima semua kalangan; Taur ema ida nebe hakarak halo buat nebe “los deit”, la seluk no la let, nia hun maklei-inan ka konstituisaun. Mengutip pernyataan Panglima F-FDTL Maijen Lere Anan Timur “Taur posesa kualidade lideransa 6 (ne’en): ema ida inteligente, iha karisma, duru, konsistente, homilde no pasiencia. Masih menurut Jeneral Lere, dengan keenam kualitas kepemimpinan tersebut yang menjadi modal Taur dalam memimpin instituisi F-FDTL dalam waktu yang cukup lama. Dengan semua predikat yang dimilikinya sebagaimana tersebut di atas, Taur menjadi salah satu kandidat PR yang potensial.

Fernando Lasama adalah seorang aktifis kemerdekaan dan mantan tahanan politik di zaman Orde Baru. Lasama merupakan seorang tokoh muda yang diperhitungkan di panggung politik nasional karena selain memimpin partai yang berisikan generasi baru dan intelektual muda, Lasama juga memiliki segudang pengalaman di bidang politik dan pemerintahan. Lasama pernah menjadi wakil Menlu RDTL dan saat ini ia menjabat sebagai presiden parlemen dan pernah juga menjabat presiden RDTL sementara beberapa bulan ketika presiden Ramos-Horta tertembak dan di rawat di RS Darwinpada tahun 2008.

Jose-Ramos Horta lebih dikenal sebagai seorang diplomat ulung. Selama bertahun-tahun Ramos-Horta memperjuangkan kemerdekaan Timor-Leste di forum internasional. Atas usahanya yang pantang menyerah dan gigih dalam perjuangan, ia dianugerahi hadiah nobel perdamaian, sebuah penghargaan yang paling tinggi di dunia bersama dengan Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo. Ramos-Hortajuga dikenal sebagai tokoh politik dan selebriti dunia karena ia mengenal dan berteman baik dengan tokoh-tokoh dunia mulai dari Asia, Afrika, Eropa sampai Amerika. Dengan gaya dan kehidupannya yang glamour seperti Silvio Berlusconi (Perdana Menteri Italia), tak ketinggalan Ramos-Horta juga berteman dengan artis-artis Hollywood papan atas seperti Jennifer Lopes, Sakira dan Salma Hayek. Maka tak heran ia sering dijuluki international figure

Fransisco Guterres Lu-Olo juga adalah salah seorang veteran perang yang telah banyak berkontribusi atas kemerdekaan dan pembabasan rakyat Maubere. sepeninggal Nino Conis Santana, Mauhudo dan Mauhunu, Lu-Olo menjadi satu-satunya figur yang merepresentasi Fretilin. Bekalnya sebagai mantan presiden parlemen dan memimpin partai besar selama beberapa periode, tentu saja membuat Lu-Olo patut diperhitungkan.

Dari keempat kandidat yang disebutkan di atas, untuk siapakah berkah Xanana Gusmao akan berlabuh? Ke Fernando Lasama kah? Lu-Olo kah? Ramos-Horta kah? Atau Taur Matan Ruak?

Dari pengamatan pribadi penulis, Fernando Lasama menjadi salah satu alternatif karena ia dianggap loyal dan mempunyai hubungan emosional dengan Xanana di masa perjuangan hingga saat ini. Akan tetapi chance-nya mungkin bukan sekarang untuk Lasama, next time will do. Sedangkan Lu-Olo, ia memiliki keretanya sendiri, jadi agak susah mendapat tuah Xanana. Sementara Ramos-Horta, it’ is very complicated for Horta to get the Xanana’s blessing at this coming election. Karena selama ini ia memilki hubungan yang kurang mesra dan harmonis dengan pemerintahan AMP maupun Xanana. Terutama di saat pengesahan OJE (Orsamento Jeral do Estado) tahunan oleh PR, selalu saja terjadi pro-kontra antara PR, pemerintah AMP dan parlemen. Contoh, mengenai OJE 2012 baru-baru ini, menurut PR Horta, OJE 2012 total anggarannyaterlalu besar jika dibandingkan dengan OJE 2011. Menanggapi pernyataan PR Horta,PM Xanana balik mengatakan “OJE la’os PR nia kompetensia. Prezidente bele la konkorda, parlamentu mak iha kompetensia konstitusional atu aprova ou laaprova” (STL, 22/10/2012). Demikain juga dengan clash-clash antara presiden dan perdana menteri selama ini. Untuk itu, Penulis meyakini bahwa berkah Xanana Gusmao tidak akan jatuh ke bahu Ramos-Horta kali ini.

Lalu, bagaimana dengan Taur? Menurut analisis penulis berdasarkan fenomena politik aktual tampaknya berkat Xanana akan jatuh pada Jeneral (Ref.) Taur. Hal ini didasarkan kepada fenomena politik berikut ini: pertama, hanya Taur dan Xanana-lah yang memiliki emotional connection yang kuat. keduanya lama hidup bersama di hutan belantara, telah saling mengenal satu sama lain bagai saudara kandung. Keduanya juga sama-sama menempati posisi tertinggi di institusi pergerakan Falintil sebelum and post independence, sehingga di kalangan terbatas untuk menghormati Xanana terkadang Taur selalu mengatakan bahwa “Xanana laos deit hau nia Maun Bo’ot maibe Xanana mos hanesan hau nia mestre no mos nudar hau nia aman”. Kedua, Tahun 2005 ketika Taur meminta untuk mengundurkan diri, Xanana mengatakan kepada Taur, “saya (Xanana) sekarang adalah PR. Tahun 2007 masanya Ramos-Horta untuk menggantikan saya, dan tahun 2012 adalah masanya Taur untuk menjadi Presiden Republik”. Ketiga, mengutip kalimat PM Xanana Gusmao waktu menghadiri acara makan malam yang diadakan oleh Taur bersama veteranos, klandestina, feto faluk no oan kiak pada tanggal 6 Oktober lalu di Taibesi, Xanana mengatakan “tempu to’o ona atu imi suporta imi nia maun, hau nia alin, Taur, saida mak nia hakarak atu halo ba rai no povu ida ne’e”. Keempat, Xanana dan Taur juga memiliki visi yang sama dalam pembangunan Timor-Leste, contohnya Taur setuju dengan PEDN dan juga menyetujui pemerintah untuk melakukan hutang sebagai dana implementasi PEDN. Jadi, tidaklah berlebihkan jika penulis menyakini, berkah Xanana untuk kali ini akan jatuh pada Taur.

Dari judul artikel di atas, dan berdasarkan rekam jejak di pemilu presiden 2007, penulis hanya ingin berbagi bahwa sampai dengan saat ini, siapapun yang ingin menjadi PR direpublik ini, setidaknya harus mendapatkan berkah dari Xanana Gusmao. Mungkin pendapat ini dianggap berlebihan dan perlu diperdebatkan, namun satu hal yang pasti, adalah hanya waktu yang akan menjawab.****

Penulis: Alumni Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Indonesia.

Sem comentários:

Enviar um comentário

Nota: só um membro deste blogue pode publicar um comentário.