VISAO MISAO OBJECTIVO HAKSESUK BOLA FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE
Bloku Unidade Popular Associação Popular Monarquia Timorense Kmanek Haburas Unidade Nasional Timor Oan Partido Esperança da Pátria Partido Socialista de Timor Partido Desenvolvimento Popular Congresso Nacional para a Reconstrução de Timor-Leste Partido Republicano União Democrática Timorense Partido Democrata Cristão Partidu Movimento Libertasaun Povu Maubere Partidu Libertasaun Popular Partido Democratico União Nacional Democrática de Resistência Timorense Partido Unidade Desenvolvimento Democrático Partido Timorense Democratico Frenti-Mudança Partido Social Democrata Centro Ação Social Democrata Timorense Partido do Desenvolvimento Nacional Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente
NICOLAU LOBATO
“O povo de Timor-Leste está reconstruindo com o seu próprio suor, com o seu próprio sangue uma pátria revolucionaria democrática, uma terra livre para gente livre”.

Espelho da Realidade
A Esperança Nunca Morre
TIMOR-LESTE



Interview with Fernando Lasama de Araujo: On the road to democracy, where the streets have no name
POVU NIA LIAN
Bazeia Polemika Iha Publiku, Deputadu sira Kansela Leilaun Prado
Estraga Karreta 12, MUTL Husu PNTL Investiga
Membru PNTL Asalta UNTL
Lejislatura Da-haat Mak Sei Ezekuta Kareta Prado

 
 
   

quinta-feira, 16 de setembro de 2010

Mendefinisikan “Bahasa”: Teori, Praksis, Teknis

)* Martinho G. da Silva Gusmão

Bagi saya, tanggapan yang dilakukan oleh João Noronha sangat menyenangkan. Alasannya, pertama, dia menukik ke pusaran persoalan pendidikan dengan determinasi tanpa pretensi politisasi. Kedua, dia tetap mengembangkan metode socratic, yaitu, bertanya dan mempertanyakan. Socrates – peletak dasar filsafat – memiliki ciri khas “bertanya” sebagai cara untuk melancarkan kritik. Dan saya berpendapat bahwa Noronha meletakkan pertanyaan-pertanyaan mendasar sebagai bentuk kritik. Tetapi, bukan tugas saya sendiri yang menjawabnya. Sebab, ada pertanyaan yang sudah berada di luar kemampuan saya untuk menjawabnya secara konkrit.

Apa yang saya tulis di sini adalah sebentuk penghargaan pada Noronha. Dan jawaban saya ini merupakan sebuah dialog-socratic juga untuk menegaskan kembali betapa pentingnya sentilan Noronha.

Membaca Kritis, Menulis Analitis

Hal pertama yang Jo Noronha angkat ialah kegagapan generasi baru kita yang tak sanggup membangun konsep atau pemikiran yang berkatik-katik (sophisticated thinking). Seorang mahasiswa/ siswa sering kali tidak runtut dalam berbicara, tidak ada kendali terhadap “full range of synthetic” dalam mengungkapkan pengetahuannya. Sering kali mereka berbicara dengan menumpuk banyak kata, tanpa kalimat, seakan-akan asal bunyi tanpa ide yang jelas. Akibatnya, kebanyakan mahasiswa tidak bisa menulis sebuah “essay”, meski kurang dari 10 halaman sekalipun.

Menurut pendapat saya, mengajar orang untuk menjadi “penulis” melalui kursus atau pelatihan (sebagaimana sering dilakukan oleh club-club pers) adalah usaha sesat. Saya berharap Jo Noronha tidak percaya pada kursus penulisan naskah yang tersebar di mana-mana. Untuk menjadi “penulis” yang baik, maka orang itu harus mulai menulis. Dan terus menerus menulis. Menulis haruslah merupakan sebuah ekplorasi dan eksperimen pemikiran. Bukan tugas ujian belaka, karena takut pada tampang dosen yang serem. Celakanya, tersedia banyak naskah di internet, lalu diadakanlah operasi “copy and paste”!

Bagaimana bisa terlihat bahwa seseorang sudah bisa menjadi penulis yang baik? Siapa yang berhak menilainya? Dalam sebuah pertemuan dengan para jurnalis di Memorial Hall, saya mengatakan bahwa masih cukup lumayan para jurnalis kita bukanlah penulis yang baik. Alasannya, mereka bukan pembaca yang baik pula. Jika seorang tidak banyak membaca, jangan berharap banyak agar ia menulis dengan baik. Yang berhak menilai mereka ialah “pembaca” yang kritis. Orang pertama yang harus membaca hasil sebuah tulisan, ialah penulis itu sendiri. Dengan kata lain, sehabis menulis sebuah naskah si penulis harus membaca ulang supaya dia memahami “insight”-nya.

Orang kedua yang bisa menjadi ukuran untuk menilai sebuah tulisan, ialah pembaca yang kritis. Sebagaimana isi tanggapan dari Jo Noronha telah menjadi bukti bahwa sebuah tulisan yang kritis, pasti menuai kritik. Apalagi kritik yang menukik tajam ke pusaran persoalan. Jika koran-koran kita hanya menimbulkan sensasi dan maki-makian, maka sesungguhnya tulisan tersebut belum mendapat pembaca yang kritis. Yang didapat ialah seorang demagog yang kalang kabut tidak paham duduk perkara (state of affair) yang dibangun dalam tulisan tersebut. Tanggap-menanggap antara saya dan Jo Noronha ialah bagian dari scientific ethos: sebuah budaya membaca kritis, menulis analitis.

Ketiga, ialah budaya membaca itu sendiri! Orang Jepang, orang Jerman, Perancis dan orang Amerika termasuk jenis-jenis pembaca ulung. Sekarang Taiwan dan China. Buku-buku di sana direbut dan dicari bagai camilan (makanan ringan). Tak ada orang yang bisa hidup tanpa buku di tangan. Sayang sekali, kita belum punya adat-kebiasaan ini. Sekali lagi: tanpa “membaca” yang banyak dan kritis, seseorang tak akan bisa “menulis” dengan baik.

Tetapi bagaimana dengan motivasi menjadi penulis? Saya yakin, penulis di Timor Leste sesungguhnya tidak ada. Karena tidak ada jenis pekerjaan yang dinamakan penulis. Tak ada gaji. Tak ada penghargaan. Salah satu yang membuat wajah pendidikan Timor Leste “bangkrut”, karena, pekerjaan sebagai pendidik hanyalah “pelarian”. Karena itu, ia tidak sanggup mengajar anak didiknya membaca dan menulis. Jika buta huruf intelektual mengajar buta huruf lain, hasilnya buta total. Saya berpendapat bahwa Jo Noronha harus didukung, dan gerakan harus meluas untuk menciptakan scientific ethos di lingkungan pendidikan kita. Janganlah Menteri Pendidikan menjadi terkenal karena didemo tiap hari oleh murid dan guru, oleh mahasiswa dan dosen. Mencemaskan itu! Menteri Pendidikan dan para Pendidik harus menjadi “Guru” (= digugu lan ditiru) karena scientific ethos-nya.

Saya selalu rajin mengatakan – buatlah lomba majalah dinding, karya ilmiah dengan hadiah yang bagus supaya menarik minat intelektual muda sejak dini. Ukurlah mereka dari kemampuan membaca literatur klasik dan membangun tanggapan kritis. Tentu saja, ide saya ini masuk dalam kategori “la pake liu”! Tapi, apa boleh buat, saya hanya percaya pada kecerdasan murid/ mahasiswa lewat bertanya dan mempertanyakan. Bukan mahasiswa “dictator”: pandai menjawab berdasarkan diktat dosen.

Pendidikan dan Pengajaran

Hal kedua, pada dasarnya saya tidak mempersoalkan bahasa Indonesia, atau Portugues atau Tetum sebagai pilihan dasar atau solusi pasti. Hanya saja karena Konstitusi Negara sudah menetapkan Portugues dan Tetum, maka kedua bahasa tersebut adalah conditio sine qua non (syarat mutlak) bagi komunikasi di dunia pendidikan, termasuk dalam kerangka scientific ethos. Mulai saja belajar Portugues. Ada ungkapan yang mengatakan “a mais longa caminhada começa com um passo apenas” (sejauh berapa pun melangkah hanya dapat dimulai dengan langkah pertama).

Kesalahan yang dibuat ialah, opsi politik terhadap bahasa Portugues tidak disertai dengan tindakan politis yang kuat dan konsensual untuk membangunnya. Celakanya, hal itu dimulai dari dunia pendidikan yang harus membangun bahasa sebagai jantung kebudayaan.
.
Namun, saya lebih cenderung berpihak kepada intuisi Jo Noronha, bahwa “keberhasilan sistem pendidikan di suatu negara itu karena dijalankan sesuai dengan realita negara itu”. Ini adalah kunci, atau, paradigma dalam filsafat pendidikan. Tidak ada ungkapan yang lebih tepat dari kesimpulan yang begitu tegas dan cerdas ini.

Pertanyaannya, sejauh mana system politik kita sudah mendefinisikan system pendidikan kita? Saya berpendapat, bahwa system politik kita melihat pendidikan sebagai ajang seleksi “recurso humano” untuk “bekerja” (trabalhador) jadi “tukang”, tetapi dengan membuka sekolah-sekolah umum (SMA) yang berorientasi “berpikir” (pensador). Sesudah itu kita membuka universitas di Dili dengan filial di beberapa distrik hanya untuk menampung tamatan Escola Secundaria. Hasilnya, setiap tahun kita menemukan banyak sarjana penganggur: tanpa kapasitas bekerja, apalagi berpikir. Dan setiap tahun masalah ini ditumpuk. Solusi yang mematikan: NGO ikut-ikutan buka kursus. Bagi saya, kursus ialah tindakan “karbitan” atau jalan pintas yang tidak berguna. Lebih lagi, kursus hanya menjadi petunjuk bahwa pendidikan bertahun-tahun di SMA dan Universitas tidak berguna, karena itu di-kursus-kan lagi.

Indikasi paling buruk ialah bahwa anggaran pendidikan cenderung menurun, sejalan dengan bangkrutnya kualitas pendidikan itu sendiri. Atau jika anggaran pendidikan dinaikkan, maka naik pula anggaran belanja untuk kementerian pendidikan (ministro/ funcionario) karena harus ikut-ikutan rebutan “pakote” ini itu.

Bagi saya, apa yang dimaksud dengan “realita negara” oleh Jo Noronha tentu masih samar-samar. Tanpa sebuah uraian, tentu dia sendiri yang memahaminya. Tetapi kalau diperkenankan, maka saya berpendapat bahwa realita negara menentukan “deschooling society” – artinya lingkungan masyarakat harus menjadi sekolah bagi orang-orang yang menghuninya. Sangat mudah melihat bahwa lingkungan kita ialah agraris, padang luas untuk peternakan dan pulau-lautan yang dihuni ikan. Dengan sendirnya, konteks masyarakat kita ialah “agricultura e pescas”.

Namun eksemplar politik kita sangat membingungkan. Misalnya, meski kita memiliki menteri yang punya “politik pertanian” (politica da agricultura) sangat agresif, tetapi “politik petani”-nya (politica do agricultor) sangat loyo. Dengan politik bagi-bagi traktor, pupuk dan bibit ke semua pelosok, lalu disertai dengan berita orang mati kelaparan karena beras dari pemerintah tidak ada – itu saja sudah menjadi tanda bahwa proses pendidikan masyarakat tidak berjalan. Jika menteri pertanian mempromosikan pertanian lokal, menteri comercio-turismo-industria mempromosikan beras dari Vietnam, hasilnya politik pertanian membuat petani jadi mati kelaparan! Fakultas pertanian yang kita punyai bukan mencetak petani, tetapi “extensionista”. Mereka datang untuk “mendidik petani”, tetapi hasilnya keduanya mati kelaparan. Karena si “extensionista” datang mengajari petani tentang menanam padi menurut text-book, sementara orang tuanya menanam padi dengan jiwanya. Dengan kata lain, sekolah dan universitas bisa mengajar seseorang tentang pertanian tetapi tidak mendidik seseorang menjadi petani. Untuk sederhananya, jika pengajaran itu bisa mencetak technical know how, maka pendidikan itu membentuk social know how!

Dalam kerangka ini mungkin benar jika “bahasa” menjadi masalah paling krusial. Tetapi, masalah itu jangan hanya ditimpakan kepada “lingua Portugues” sebagai media komunikasi antara pengetahuan teknis dan pengetahuan praksis (sosial). Menurut saya, bahasa Portugues bisa dijadikan bahasa “ilmu pengetahuan” (scientific-ethos) karena telah mendapat status “lingua official”. Tetapi, bahasa Tetum dan Melayu tetap menjadi bahasa “komunikasi sosial”. Barangkali solusi terbaik ialah “jangan mengeluh saja”, tetapi mulai belajar mengatasi masalah: “aprender lingua Portugues” sampai tuntas. Bagi saya, Tetum belum memiliki status “scientific ethos”. Tétum

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Aquele que não sabe que não sabe, é um tolo – evite-o. Aquele que não sabe e sabe que não sabe, é um estudioso – instrua-o. Aquele que sabe e não sabe que sabe, é um simples – acorde-o. Aquele que sabe e sabe que sabe, é um sensato – siga-o” (seseorang yang tidak tahu bahwa tidak tahu adalah tolol, hindari dia. Seseorang yang tidak tahu dan tahu bahwa tidak tahu adalah adalah seorang cendekiawan – didiklah dia. Seseorang yang tahu dan tidak tahu bahwa tahu adalah seorang sederhana, bangunkan dia. Seseorang yang tahu dan tahu bahwa tahu, adalah luar biasa – ikutilah dia).

*) Penulis adalah Dosen Filsafat

1 comentário:

  1. Padre, diak ka lae?
    Tuir mai, atu hatete badak deit katak, hau aseita tebes ho ita bot nia artikel ida ne, no liu-liu hau aseita ho ita foti hanoin no kolia kona-ba "deschooling society".

    Hau hare ida ne importante no refleta realita iha Timor-Leste nebe ho nia populasaun liu 90% agrikultor nebe tuir lolos potensial bot ba dezenvolvimentu Timor-Leste, maibe sai fali dependente ka "recipient" deit. Dala ruma dehan "aneh tapi nyata", katak bainhira iha rai hamlaha, agrikultor iha area rural sira mak haklalak uluk fali katak sira hamlahan/ai han la iha/krize ai han. Ida ne tamba saida? Ida ne bele sai abut husi problema agrikultura nian tomak.

    Atitude moris iha agrikultor nia mos tenke muda neneik-neneik. Buka atu hadiak dadaun. Tenke iha hanoin hanesan atu muda husi kuda ai han ba han deit no oin sa sai kuda ai han hodi fo apoiu ba industria ruma. Ne iha ministeriu kompetente sira hanoin no planu. Atu muda hanoin no moris hirak ne atu sai diak liu tan, dalan ida mak tenke liu duni husi dezenvolve sistema edukasaun ida diak liu, nebe la os hare liu deit ba iha sistema edukasaun formal. Talves ministeriu agrikultura no edukasaun bele hamutuk hare kona-ba ida ne. Maibe, agrikultor sira rasik mos tenke iha esperitu diak atu hakarak modifika moris ne.

    Ikus liu, ita bele halo buat hotu iha Timor-Leste, maibe agrikultura no agrikultor la iha mudansa, maka ita mos sei la lao ba oin ho diak. Ita lao ba oin, maibe se sira sei hela nafatin ho "subsistance agriculture" hela deit, maka ita sei parado iha fatin. Hau fiar katak bainhira 90% liu ne moris diak ona, mak bele dehan Timor ne mos maioria diak ona. Inti mak ida ne, oin sa halo sira nebe potensial tenke sai potensial duni iha pratika. Abracos...

    Joao Noronha

    ResponderEliminar

Nota: só um membro deste blogue pode publicar um comentário.