VISAO MISAO OBJECTIVO HAKSESUK BOLA FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE
Bloku Unidade Popular Associação Popular Monarquia Timorense Kmanek Haburas Unidade Nasional Timor Oan Partido Esperança da Pátria Partido Socialista de Timor Partido Desenvolvimento Popular Congresso Nacional para a Reconstrução de Timor-Leste Partido Republicano União Democrática Timorense Partido Democrata Cristão Partidu Movimento Libertasaun Povu Maubere Partidu Libertasaun Popular Partido Democratico União Nacional Democrática de Resistência Timorense Partido Unidade Desenvolvimento Democrático Partido Timorense Democratico Frenti-Mudança Partido Social Democrata Centro Ação Social Democrata Timorense Partido do Desenvolvimento Nacional Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente
NICOLAU LOBATO
“O povo de Timor-Leste está reconstruindo com o seu próprio suor, com o seu próprio sangue uma pátria revolucionaria democrática, uma terra livre para gente livre”.

Espelho da Realidade
A Esperança Nunca Morre
TIMOR-LESTE



Interview with Fernando Lasama de Araujo: On the road to democracy, where the streets have no name
UKUN HAMUTUK?
Sorumutu "Meja Bo'ot" nakonu ho "bua-malus". Sei lo'ok ba malu hela hodi mama hamutuk.
Fretilin
Fretilin - CNRT
Fretilin - PLP
Fretilin - PD
Fretilin - KHUNTO

 
 
   

quarta-feira, 29 de setembro de 2010

Martinho Noronha Tanggapi Mahein Tentang Media dan Keamanan di Timor-Leste

MEDIA DAN KEAMANAN TIMOR-LESTE

Martinho Noronha

Setelah membaca tulisan Media Mahein, saya dapat berkesimpulan bahwa organisasi inipun ada maksud-maksud kurang baik dibaliknya. Saya tidak mau berkesimpulan bahwa Mahein termasuk NGO yang dibiayayai oleh orang asing untuk menciptakan instabilitas di Timor-Leste, tetapi dari tulisan terbaca usaha-usahanya membela kepentingan Indonesia di Timor-Leste.

Pertama menulis dalam bahasa Indonesia. Sayapun menulis dalam bahasa Indonesia bukan karena mau membela kepentingan Indonesia, tetapi mempermudah Mahein untuk membacanya karena mereka tulis dalam bahasa ini.

Kedua, menyerang pihak perlawanan dan uskup Belo sambil membela secara langsung atau tidak langsung Indonesia.

Tengok pernyataan Mahein ini: “Dalam sejarah perjuangan Timor-Leste tidak terlepas dari peran media. Media sangat berperan aktif dalam melakukan propaganda politik untuk melawan pemerintahan otoriter Suharto. Dengan media Timor-Leste dapat menjatuhkan wibawa Indonesia di dunia internasional melalui pemberitaan yang terjadi terutama tentang pelangaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Timor-Leste, seperti kasus pembantaian 12 November 1991 di Santa Cruz dengan pemberitaan tersebut dunia meminta agar persoalan integrasi Timor-Leste dengan Indonesia ditinjau kembali.”

Mahein ingin membantah bahwa semua berita yang dikirimkan Perlawanan (Resistencia) ke berbagai media internasional tidak benar, tidak ada pelanggaran hak asasi manusia di Timor-Leste dan tidak ada pembantain 12 November 1991. Yang ada adalah usaha perlawanan untuk “menjatuhkan wibawa Indonesia di dunia Internasional”. Pernyataan Mahein ini sama persis dengan pernyataan militer Indonesia dan para diplomatnya untuk menyembunyikan kekejaman mereka. Mahein ingin mengatakan bahwa pihak perlawanan adalah pembohong besar karena informasinya tidak lebih dari sebuah propaganda untuk mendeskritkan Indonesia di mata dunia.

Coba bandingkan pernyataan yang mengatakan bahwa “la’os tempu ona atu sura kolen” dengan pernyataan Mahein di atas, mana yang berbau menghina para veteran? Saya rasa Maheinlah yang menghina para veteran karena berkesimpulan bahwa fakta-fakta yang disampaikan oleh gerakan perlawanan adalah propaganda semata. Inilah penghinaan paling menjijikan karena Mahein menghina para korban dan keluarganya dengan membantah bahawa tidak ada pelanggaram HAM di Timor-Leste dan tidak ada pembantaian. Sedangkan tulisan STL yang mengatakan “sudah bukan saatnya menghitung jasa” bukanlah sebuah penghinaan, melainkan sebuat nasihat. Jelas-jelas membela kepentingan Indonesia.

Pernyataan Media Mahein yang lain memgatakan bahwa: “Pimpinan gereja Timor-Leste Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo Tahun 1996 pernah menggoncang politik Indonesia dalam wawancaranya di Majalah der Spiegel edisi 14 Oktober 1996. Kepada majalah Jerman itu Uskup Belo menyatakan “Tentara Indonesia telah merampas kemerdekaan dan menghancurkan kebudayaan kami juga memperlakukan kami seperti anjing kudisan. Mereka tidak mengenal tata keadilan. Orang Indonesia memperlakukan kami seperti budak belian”.

Tidak hanya itu pada siaran pers Vatikan pertengahan September 1999 memuat hal-hal yang dikampanyekan Uskup Belo termasuk soal genocide atas bangsa Timor-Leste. Ia menyebut kerusuhan pasca jajak pendapat itu sebagai genocide dan setingkat dengan pembasmian etnis di Bosnia-Herzegovina dan Rwanda.

Uskup Belo menuduh Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai pihak paling bertanggung jawab terhadap kasus itu. TNI katanya menaruh dendam karena gagal mempertahankan Timor-Leste. “Karena dendam itulah Timor-Leste dibikin kacau tak karu-karuan” kata Belo dari tempat persembunyiannya di Lisabon. Saat itu pun Uskup Belo sudah menuntut agar persoalan tersebut dibawa ke mahkamah internasional. Suara Belo tentang Timor-Leste ketika itu juga mendapat dukungan dari Vatikan[1]

Kata “kampanye” dan “persembunyian” yang dipakai Mahein untuk uskup Belo juga menarik untuk disimak. Kata kampanye juga berarti propaganda, dengan demikian Mahein ingin mengatakan bahwa uskup Belo pun telah berbohong dan melakukan propaganda-propaganda palsu melawan Indonesia. Mahein ingin mengatakan bahwa Indonesia memperlakukan orang Timor-Leste dengan sangat baik, tidak seperti yang dilukiskan oleh uskup Belo.

Yang mengelikan lagi Mahein mengatakan bahwa uskup Belo bersembunyi di Lisabon. Bagaimana orang bisa percaya pada tulisan Mahein yang jelas-jelas ingin membodohi dan membohongi rakyat Timor-Leste ini. Siapa yang mengejar uskup Belo di Portugal sehingga ia harus bersembunyi? Adakah intel dan ABRI di Portugal? Orang yang menonton RTP Internasional, mereka bisa melihat saat uskup Belo tiba di Lisabon. Beribu-ribu orang berbaris dengan bunga ditangan mulai dari aeroport sampai kediaman uskup. Semua jalan yang dilalui uskup Belo penuh sesak dengan manusia. Sebuah penerimaan yang jauh lebih besar dari Paus sendiri apalagi para kepala Negara. Tidak pernah ada dalam sejarah Portugal yang orang menerima tamu semeriah menerima uskup Belo. Baigaimana Mahein bisa membohongi rakyat dan para veteran bahwa uskup Belo bersembunyi di Portugal? Ini adalah penghinaan Mahein yang luar biasa terhadap para veteran, Gereja dan rakyat Timor-Leste pada umumnya.

Semua orang tahu bahwa para wartawan STL kurang profisional serperti semua wartawan Timor-Leste pada umumnya. Karena itu hampir setiap minggu mereka ralat berita yang salah dan minta maaf. Apakah Media Mahein akan meralat beritanya yang salah dan meminta maaf kepada veteran, uskup Belo dan rakyat Timor-Leste?

Sudah siapkah Mahein mempertanggungjawabkan pernyataannya mengatakan STL dibiayayai oleh KOPASUS? Adakah wartawan penyelidiki Mahein yang sudah punya evidensi bahwa STL dibiayayai oleh KOPASUS, atau sekedar untuk berpropaganda? PR Horta pun pernah salah menuduh wartawati Indonesia Dessy Anwar yang memwawancarai Alfredo Reinado. Jadi, kalau mau jadi pendidik yang baik, jangan melakukan kesalahan yang sama seperti wartawan-wartawan yang kurang profisional yang beritanya hanya berdasarkan kabar angin.

Menuduh STL melakukan monopoli media adalah sebuah tindakan gegabah. Monopoli itu terjadi bila didukung oleh kepentingan politik para penguasa yang membatasi orang lain untuk tidak boleh melakukan kegiatan bisniss yang sama. Timor Telekom yang melakukan monopoli, karena itu, kalau ada perusahaan dibidang telekomunikasi yang ingin bergerak di Timor-Leste harus minta ijin dari Timor Telekom dan Pemerintah RDTL karena ada agreement antara Pemerintah dan Timor Telekom. Adakah agreement antara Pemerintah dan STL? Apakah keberadaan media lain di Timor-Leste meraka harus minta ijin kepada STL? Tidak ada. Bahkan ada media tertentu sudah berusaha melakukan hal yang sama dengan STL, tetapi tidak bertahan, mungkin kurang pengalaman. Siapa yang bisa mengatakan Berlusconi telah melakukan monopoli media di Italia. Tidak ada. Semua diberi kesempatan yang sama untuk bersaing, tidak seperti Timor Telekom. Makanya tidak ada alasan untuk menuduh STL melakukan monopoli. Didiklah rakyat Timor-Leste dengan baik dan benar, bukan megkritik media lain kemudian Mahein pun melakukan kesalahan yang sama.

Sem comentários:

Enviar um comentário

Nota: só um membro deste blogue pode publicar um comentário.