VISAO MISAO OBJECTIVO HAKSESUK BOLA FH KKN HOME FH LPV ARTIGOS FH MUZIKA LIA MENON FH RESPONDE
Bloku Unidade Popular Associação Popular Monarquia Timorense Kmanek Haburas Unidade Nasional Timor Oan Partido Esperança da Pátria Partido Socialista de Timor Partido Desenvolvimento Popular Congresso Nacional para a Reconstrução de Timor-Leste Partido Republicano União Democrática Timorense Partido Democrata Cristão Partidu Movimento Libertasaun Povu Maubere Partidu Libertasaun Popular Partido Democratico União Nacional Democrática de Resistência Timorense Partido Unidade Desenvolvimento Democrático Partido Timorense Democratico Frenti-Mudança Partido Social Democrata Centro Ação Social Democrata Timorense Partido do Desenvolvimento Nacional Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente
NICOLAU LOBATO
“O povo de Timor-Leste está reconstruindo com o seu próprio suor, com o seu próprio sangue uma pátria revolucionaria democrática, uma terra livre para gente livre”.

Espelho da Realidade
A Esperança Nunca Morre
TIMOR-LESTE



Interview with Fernando Lasama de Araujo: On the road to democracy, where the streets have no name
UKUN HAMUTUK?
Sorumutu "Meja Bo'ot" nakonu ho "bua-malus". Sei lo'ok ba malu hela hodi mama hamutuk.
Fretilin
Fretilin - CNRT
Fretilin - PLP
Fretilin - PD
Fretilin - KHUNTO

 
 
   

segunda-feira, 12 de abril de 2010

Reply Saudari Cecilia: “Sering kali saya membaca tulisan anda dan langsung ingin menanggapi beberapa kalimat anda”

Tetapi Hasilnya Butuh 40 Hari
Oleh: )* Raimundo Oqui

Saya kira masalah ini sudah tamat alias THE END, tetapi masih hangat betul bagi saudari Cecilia Pinheiro. Sebab, artikel saya yang berjudul “5 Siswi Sao Pedro jadi Selebiritis dan Bugil, Orang Tua-Guru Mempersalahkan Pemberitaan Media” telah di terpublikasikan di FORUM HAKSESUK pada edisi 26 Februari 2010. Hati saya merasa lucu ketika membaca tangapan saudari Cecilia di FH edisi 9 April 2010 dengan sub-topik Sering kali saya membaca tulisan anda dan langsung ingin menanggapi beberapa kalimat anda. Artinya, langsung ingin menanggapi pada esok harinya, namun tidak berhasil. Beliau baru berhasil menanggapinya dengan membutuhkan waktu 40 hari lamanya, seperti Yesus berpuasa di Padang Gurun. Mulai dari Maret yang berjumlah 31 hari dan baru terjawab di FH edisi 9 April 2010. Jadi, jumlah waktu yang dibutuhkan saudari Cecilia untuk menanggapi artikel saya adalah dalam waktu 40 hari.

Sangat pasti bahwa kedelapam siswi SMU Sao Pedro bukan pekerja entertainment dan seterusnya. Namun, dengan beredarnya foto mereka di dunia internet menarik pendapat publik bahwa tingkah laku kedelapan siswi itu sudah melangkah setahap menuju kedunia entertainment. Sekali lagi, kedelapan siswi itu bukan pekerja entertainment.

Muncul pertama kalinya foto-foto kedelapan siswi São Pedro adalah didunia Internet. Hal ini dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa Internetlah yang menjadi pihak pertama memberitakan foto-foto kedelapan siswi itu, sementara korang STL adalah pihak kedua memberitakan kasus ini. Demikian Saya juga meniru gaya anda dengan menggunakan “Nah dimanakah letak kebijaksaan antara Internet dan korang STL? Saya tidak ada jawaban untuk menjawab pertanyaan anda. Sebab, Internetlah yang menjadi pihak pertama sedangkan korang STL ialah pihak kedua memberitakan. Jadi, ssangat sulit bagi saya untuk menentukan garis kebijaksanaan antar dua pihak. Saudari Cecilia sudah menemukan garis kebijaksanaan barangkali! Jikalau sudah menemukan, harap dijelaskan.

Akhirnya anda juga mengakui bahwa foto kedelapan siswi itu sudah beredar di Internet. Jadi, terpujilah engkau atas pengetahuan Anda. “Memang betul foto-foto para gadis tersebut sudah beredar di Internet, namun bukan berarti STL berhak mempublikasikan hal tersebut hingga diketahui seluruh negri, seperti kita tahu bahwa tidak semua orang Timor Leste dapat mengaksess internet, hanya segelintir orang saja termasuk saya dan anda, jadi cukuplah hanya kita saja yang tahu tak perlu semua orang harus tahu. Dimanakah letak kebikjaksanaan itu? Bukankah STL mulai menjual gosip? Walaupun itu bukan gosip namun dengan menyajikan berita semacam itu korang anda makin laris manis”.

Mengenai soal kebijaksanaan sudah dijelaskan diatas bahwa sangat sulit bagi saya untuk menentukan kebijaksanaan yang bijak, karena internet yang menjadi pihak pertama mempublikasikan foto-foto itu kemudian baru STL. Jujur saja hal ini sungguh membingungkan diri saya untuk menentukan kebijaksanaan antara INTERNET dan korang lokal STL. Dengan demikian manakah juga yang menjual gosip? Mengenai makin laris dan manisnya Koran, I have no comment, karena saya bukan penjual dan distributor Koran yang tahu persis pendapatan dari hasil penjualan Koran saat itu. Tetapi, saya adalah seorang reporter (Communicator) untuk melaporkan peristiwa-peristiwa yang terjadi sehari-hari kepada masyarakat umum khususnya masyarakat Timor-Leste.

Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah manakah yang lebih diakses banyak orang, INTERNET atau Koran lokal STL yang arus sirkulasinya hanya di 13 distrik! Namun sesuai dengan realitas yang ada menunjukkan bahwa ternyata yang lebih diakses adalah internet. Buktinya, salah satu kolega mahasiswi saya dengan identitas Zosefina Lourdes yang sedang menuntut ilmu kebidanan di Havana-Cuba menyatakan dirinya terkejut saat melihat foto-foto itu sudah tersebar luas di internet. Bukan hanya di Cuba saja, tetapi termasuk juga beberapa teman mahasiswa/i Timor-Leste yang sedang sekolah di negara Kangguru Australia juga ikut terkejut dengan foto-foto itu. Dengan fakta-fakta ini menunjukkan bahwa tidak logis jikalau Anda menyatakan yang hanya mendapat informasi dari Internet hanya Saudari saja dan saya. Tidak logis sama sekali.

Anda cenderung menuduh dan mempersalah remaja-remaja putri tersebut beserta orang tua dan para pendidiknya, menurut saya orang tua maupun guru sama sekali tidak bersalah yang bersalah adalah remaja-remaja itu sendiri yang tidak menghormati tubuh mereka sendiri, orang tua dan guru sudah tentu mendidik dan mengajarkan etika moral yang baik bagi anak dan peserta didik mereka. Hanya saja anak-anak dan peserta didik mereka itulah yang tidak menghiraukan ajaran dan didikan dari orang tua dan guru mereka.

Sangat pasti bahwa tempat sosialisasi paling awal adalah keluarga. Keluarga inti adalah terdiri dari Bapak-Ibu dan Anak. Sejak anak dilahirkan dirinya menerima keanekaan pelajaran dasar dalam rumahnya. Salah satunya adalah pendidikan moral. Ketika perkembangannya semakin menambah dan mulai masuk sekolah dasar pendidikan moral terus berlanjut diajarkan disekolah. Berarti, para orang tua telah menjalankan kewajibannya untuk mendidik anaknya tentang pendidikan moral dan pendidikan dasar lainnya. Demikian juga para pendidik. Tetapi dengan terjadinya tingkah laku kedelapan siswi Sao Pedro itu publik berpendapat bahwa sudah sejauh mana dasar pendidikan moral baik dari orang tua maupun para pendidik. Seperti kita ketahui bahwa pendidikan moral yang paling kuat adalah sekolah-sekolah yang dikelola oleh para biarawan-biarawati dan pula yang menuntut ilmu disekolah itu juga terseleksi, artinya hanyalah orang-orang pintar dan tidak sembarang tingkah lakunya.

Didikan yang baik tidak pernah menghasilkan hasil yang buruk. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Pohon yang baik tidak pernah mengahasilkan buah yang jelek. Pohon yang jelek menghasilkan buah yang jelek. Pohon yang jelek tidak pernah menghasilkan buah yang baik. Jikalau pohon ini tidak menghasilkan buah yang baik lebih baik dipotong batangnya lalu dibuang kedalam api supaya dihanguskan. Mungkin saja SMU São Pedro menganut paham ini sehingga tanpa sanksi atau pun teguran, sekolah dengan segera mengeluarkan kedelapan siswi itu tanpa kompromi dan negosiasi.

Anda juga menyatakan bahwa kedelapan siswi itu juga tidak menghargai tubuh mereka. Dengan jelas ajaran Khatolik menyatakan bahwa hargailah tubuh, sebab tubuhmu adalah kudus. Jadilah kudus, sebab Akulah kudus. Statement anda tentang kedelapan siswi tidak menghargai tubuh mereka sendiri berarti, dalam pikiran Anda terhadap foto-foto itu adalah bugil dan selebritis atau pikiranmu sudah itu sedikit terarah ke bugil dan selebritis. Tetapi Anda masih menyatakan bahwa “Pose mereka tidak sampai bugil kan? Dengan demikian otak saya ini jadi liquid untuk memberi jawaban yang memuaskan anda. Sudah tahu bahwa tubuh kita ini adalah kudus, berarti tidak boleh disalahgunakan. Dan juga busana kedelapan siswi bukan merayakan suatu hari penting baik bagi Negara maupun Gereja, sehingga mereka harus berpakaian demikian. Tidak mungkin juga mereka harus berpakaian demikian dalam hari besar Negara dan Gereja.

Menurut anda foto kedelapan siswi itu merupakan suata hal biasa. Namun, menurut SMU São Pedro adalah taboo, sehingga tanpa sanksi, teguran, kompromi dan negosiasi sekolah mengambil keputusan mengeluarkan mereka dengan alasan agar tingkah kedelapan siswi itu jangan menular kepada yang lain. Dari pada tingkah laku itu menular kepada 1000 siswa/i, lebih baik dikeluarkan aja.

Anda juga menyatakan kedelapan siswi itu hanya HAVE FUN. Menurut saya HAVE FUN bukan memakai seragam sekolah. Mungkin saja pendapat anda betul, sebab tempat mereka berfoto itu salah salah tempat untuk HAVE FUN seperti yang anda maksud. Menurut saya disamping HAVE FUN, ingin mempromosikan produk baru mereka, yakni dengan memamerkan buah dada. Mungkin saja mereka berpendapat bahwa yang punya buah dada hanyalah mereka sendiri. Perempuan lain tidak punya. Dan juga untuk mendapat penilaian publik tentang buah dada dan tubuh yang seksi hanya lah melalui pameran atau promosi seperti yang mereka lakukan, namun taksiran ini tidak pasti sebab saya sendiri tidak ketahui alasan dan motivasi dasarnya.

Belum tentu ke-8 siswi tersebut yang menyebarkan pose mereka ke internet bisa jadi ini kerjaan orang iseng yang dengan sengaja mau mempublikasikan foto-foto tersebut, seperti kita ketahui bahwa banyak artis dan selebritis yang sesungguhnya jadi korban tangan-tangan iseng di dunia maya itu.

Anda sudah mengaku bahwa foto-foto tersebut adalah 100% tersebar di internet, tetapi masih meragukan penyebar foto itu. Untuk melenyapkan keraguanmu itu lebih baik jikalau anda ingin minta langsung kepada kedelapan siswi tentang pelaku penyebar foto-foto itu.

Bagi anda foto-foto yang tersebar di internet itu adalah hasil kerja tangan-tangan iseng di dunia maya itu, namun kalau bukan mereka sendiri siapakah sebenarnya tangan-tangan iseng itu! Bukan mereka sendiri yang menjadi tangan-tangan iseng itu?
-
)* Penulis adalah mantan wartawan STL
Oki98@ymail.com

Sem comentários:

Enviar um comentário

Nota: só um membro deste blogue pode publicar um comentário.